Makan Malam bersama Tetangga Koridor

by Fadhli

Setelah hidup bertetangga selama lima bulan, akhirnya baru malam tadi terjadi pertemuan tetangga sekoridor. Malunya lagi, ini diinisiasi oleh penghuni baru yang pindah dari lantai atas ke lantai kami. Jadi malam ini ada saya, masing-masing seorang laki-laki dari Kosta Rika, India, dan masing-masing seorang perempuan dari Korea dan Myanmar. Kawan depan kamar saya dari Uganda, saya ketahui sudah pindah ternyata. Pantas beberapa hari belakangan, saya perhatikan dari luar jika sebelum memasuki asrama, lampu kamarnya selalu mati.

Kawan Korea itulah yang mengundang dan memasak untuk kami. Saya hanya menyumbang jeruk mandarin dan membantu mencuci piring. Menunya tidak saya ketahui betul namanya. Yang jelas ada semacam spaghetti, kemudian daging ayam, dan kimchi. Terima kasih untuk kawan tersebut yang mengerti penganan saya, karena dia katakan, “Saya biasanya memasak daging babi, tetapi saya tahu ada kamu jadi saya memasak ayam saja sebagai gantinya…” padahal saya tidak bilang sebelumnya, dan secara sengaja baru saat itu saja bertemu dengan orangnya. Jadi dengan begitu saya bisa sekaligus menjelaskan bahwa saya juga tidak minum alkohol, sebagai pemberitahuan ke depannya. Selebihnya adalah percakapan mengenai topik tesis, asal kota, rencana setelah lulus, olahraga, dan lain-lain masalah anak muda.

Sekitar dua jam bercakap-cakap, sebelum kembali ke aktivitas masing-masing, kami mengucapkan terima kasih karena telah menyediakan makan malam dan mempertemukan kami, penghuni koridor, secara lengkap, dan akhirnya keluar juga komentar dari beberapa kawan terhadap saya. Yang Kosta Rika bilang, “Saya jarang banget ketemu Zul di koridor ini, bahkan lebih banyak ketemu dia di lapangan futsal daripada di sini.” Yang India bilang, “Zul ini mungkin bergeraknya terlalu cepat jadi kita susah ngeliatnya, kayak The Flash, disamain kayak main futsal.” Yang Korea, “Saya juga sebelumnya ga tau, Zul itu yang mana sih??” Untuk itu saya menjawab biasa sambil ketawa, “Like a ghost, huh? Dan saya kalau di kelas duduk di belakang sih biasanya.”

Saya emang jarang keluar dan bersuara di kamar. Kalau sudah di kamar emang enaknya beraktivitas di depan komputer, atau merebahkan diri di kasur, bersandar di dindingnya sambil ditemani buku-buku, sambil ditemani teh dan kopi🙂