Memoar Perjalanan Den Haag (2) – Awal Ketibaan di Kampus

by Fadhli

Saya tiba di Kota Den Haag pada Sabtu, 30 Agustus 2014. Waktu itu saya menumpang pesawat maskapai Singapore Airlines dan sempat transit di Bandara Changi selama sekitar 2 jam sebelum melanjutkan ke Bandara Internasional Schipol di Amsterdam. Selama perjalanan di dalam pesawat, sudah saya catatkan kisahnya di artikel ini.

Sesampainya di Bandara Schipol Amsterdam, tidak lama menunggu saya disambut hangat oleh dua orang senior di sana. Sambil menunggu kedatangan dua orang lain yang akan tiba dengan maskapai berbeda, kami makan pagi di salah satu rumah makan cepat saji di bandara. Akhirnya dua orang kawan baru (perempuan) lain pun muncul. Para senior itu kemudian sangat membantu kami dengan membawakan koper-koper kami yang besar. Namun, dari ketiga orang mahasiswa baru, koper saya yang terkecil, bahkan kuota koper saya sebetulnya masih bisa diisi barang seberat 5 kilogram namun karena sudah penuh, tidak bisa muat dengan barang lain lagi.

Dari bandara, kami menuju asrama menggunakan tram, dan itu pertama kali pula untuk saya. Seperti di Eropa dan di pelm-pelm rasanya, hahaha emang! Turun dari tram masih harus berjalan beberapa ratus meter lagi, dan dengan setia para senior masih menggeret koper-koper kami. Kemudian kami berhenti dulu untuk membeli makan siang di sebuah rumah makan bernama Soto Kromo, yang menjual Soto Jawa, pemiliknya dari Suriname. Kami hanya singgah untuk membelinya dan akan memakannya bersama di kampus.

Setiba di kampus, karena lapar kami menghabiskan dahulu soto yang kami beli di common room, semacam lobi salah satu gedung asrama. Setelah itu, masih diantar juga oleh salah seorang senior kami melakukan registrasi di kampus. Kami diberi pengarahan dan menandatangani beberapa surat, difoto untuk mencetak langsung kartu mahasiswa, diberi pengarahan oleh bidang kesejahteraan mahasiswa, dan akhirnya mendapatkan kunci asrama. Dalam registrasi itu kampus menyediakan berbagai penganan kecil semacam kripik kentang sachet, apel, minuman ringan, coklat, yang sebagian besarnya saya ambil untuk langsung dibawa ke asrama.

Saya mendapat asrama yang terpisah dari gedung asrama yang utama, namun letaknya hanya bersebrangan jalan. Sebelum menuju ke kamar saya, kami mengantarkan dulu dua kawan perempuan tadi ke kamarnya juga. Setibanya di kamar, saya cukup senang dengan ukuran dan fasilitasnya yang full furnished termasuk ada kulkas dan kamar mandi dalam, walaupun ya mahaaaal…🙂 Begitupun pemandangan di luar jendela. Sampai-sampai senior itu bilang, wah ini posisi kamar enak. Hal lain yang termasuk saya pertanyakan pertama kali adalah arah kiblat, karena saya lupa bahwa saya membawa kompas khusus arah kiblat waktu itu. Ternyata arah yang diberitahukan tidak berbeda dengan kompas.

Pemanas ruangan di kamar sempat tidak berjalan beberapa hari, namun saya langsung komplain dengan mengirimkan email ke bagian fasilitas kampus, dan beberapa hari kemudian saya menemukannya sudah berfungsi dengan baik. Untuk dapur, kami berbagi untuk tiga orang dengan tetangga saya dari Kostarika, dan satu lagi dari Afrika Selatan (yang beberapa bulan kemudian berganti dari Uganda, dan sekarang kosong karena pindah).

Tentang dapur ini, beberapa pekan awal kami berbagi tugas membersihkannya karena masih terdapat banyak barang-barang peninggalan senior yang sudah pergi di sini. Saya kebagian membersihkan meja dan kursi, juga mencuci beberapa piring dan gelas-gelas yang masih akan digunakan. Itulah kiranya mengenai kondisi koridor saya. Satu koridor kami berisi 7 kamar, dapur kami untuk bertiga, dapur ujung lain untuk berempat.

Tanggal 31 Agustus, sehari setelah kedatangan, saya langsung berpartisipasi dan meliput aksi dukungan terhadap Palestina yang baru saja mendapat serangan dari Israel pada bulan Juni – Juli sebelumnya. Liputannya menjadi liputan pertama saya yang ditayangkan di NET TV setiba di Belanda. Bagi saya, ini langsung menjadi pelecut semangat untuk mencari berita lagi yang unik-unik. Setelah berita ini tersebar, banyak yang mengira-ngira saya wartawan asli, hingga saya harus menjelaskan bukan, dan bahkan mengajak teman-teman lain yang tertarik dengan kegiatan yang sama bisa juga meliput-liput seperti saya menjadi netizen.

Tanggal 1 September, masa orientasi dimulai selama dua pekan ke depan. Berkenalan dengan rekan-rekan lain, termasuk jurusan. Beradaptasi terutama dengan kendala bahasa. Orientasi ini lebih banyak berkaitan dengan pengenalan antar budaya, kehidupan di Belanda, sistem akademik, kunjungan perpustakaan, dan lain-lain yang belum memasuki inti perkuliahan. Diadakan juga sebuah field trip ke daerah yang seharusnya jadi must visit karena itu adalah ikon Belanda, namun saya dengan menyesal malah tidak mengikutinya karena permasalahan di mata saya kambuh lagi (saya sudah kisahkan di sini). Kami juga sempat mengunjungi induk universitas kami di Rotterdam.

Hal-hal yang bersifat penting pribadi juga diurus dalam masa ini seperti asuransi, rekening bank, dan kartu identitas kependudukan untuk kawasan Uni Eropa (residence permit). Untuk dua hal terakhir yang memakan waktu agak lama karena harus menunggu beberapa kali surat panggilan, yang semua suratnya berbahasa Belanda.🙂

Aktivitas lainnya adalah pengenalan medan tempat saya tinggal, di mana tempat membeli bahan makanan, di mana mesjid, di mana pasar, di mana pantai. Untuk ke pantai ini saya mulai merutinkan kembali jogging yang bisa ditempuh sekitar satu jam pergi-pulang jika berlari pelan tanpa henti dan hanya beristirahat sebentar setelah sampai pantai. Nama pantainya Scheveningen. Areanya cukup panjang, namun secara jujur saya harus bilang berbeda dengan keadaan pantai-pantai di Indonesia yang relatif lebih kaya fitur alamnya, tidak rata berisi pasir begitu saja.

Saya juga mulai mengenali beberapa bangunan-bangunan penting seperti Palace Nordeinde sebagai rumah dinas Raja-Ratu, Binnenhof dengan danaunya yang sangat ikonik sebagai tempat parlemen, Peace Palace tempat International Court of Justice bekerja, Masjid Aksa sebagai tempat menunaikan ibadah shalat, rumah makan halal (dan murah tentu saja, hehehe).

Dalam masa-masa awal ini saya juga mulai mengurusi reimbursement beasiswa secepatnya, karena saat berangkat saya menghutang sekitar dua setengah juta kepada orang lain (tidak kepada orang tua karena khawatir memberatkan :(). Alhamdulillah saya bisa melunasi janji waktu pelunasannya. Selain untuk melunasi hutang itu, saya juga mulai membeli keperluan pribadi yang terutama adalah sepeda karena di sini moda transportasi itu sangat penting dan lazim. Selebihnya tidak banyak yang saya beli selain beberapa helai pakaian untuk persiapan musim dingin, beruntung juga jaket tebal kemudian diberi oleh seorang kawan Indonesia yang berkuliah di Denmark dan mengunjungi saya ke Den Haag, dan sampai sekarang saya tidak pernah membeli jaket tebal.

Pengenalan lain adalah moda transportasi publik yang secara garis besar ada 3: tram, bis, dan kereta antar kota. Untuk memudahkan, saya beli kartu berlangganan yang berlaku hingga 2020 nanti. Semua moda transportasi bisa menggunakan kartu itu.

Untuk pergaulan dengan orang, di masa-masa awal ini ada beberapa komunitas yang saya kenali: tentu saja kawan-kawan Indonesia satu kampus yang semua bernaung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Kota Den Haag (catatan: PPI Kota Den Haag dan PPI Den Haag berbeda). Beberapa hari tiba, saya menyumbangkan satu tulisan di blog kami bersama. Kemudian hingga saat ini saya didaulat menjadi (Koordinator) Seksi Humas dan Publikasi.

Dalam komunitas yang lebih sedikit, saya juga bergabung dengan grup “katering.” Berhubung saat itu saya masih malas memasak, kemudian bertemu dengan kakak kelas SMA dan beberapa kawan lain yang baik hati, kemudian kami sepakat membuat grup itu. Jadi sistemnya kami mengiur tiap pekan sejumlah 5-7 Euro untuk makan bersama-sama dengan tugas memasak dan berbelanja yang diatur bergantian. Saya kira saya bergabung selama sekitar tiga bulan lamanya, hingga saya merasa sering “kebanyakan urusan” dan sering absen jadilah daripada jadi “benalu” saya memutuskan untuk berhenti duluan. Pada akhirnya, grup katering kami pun berhenti semuanya di Desember kemarin.

Selain dengan orang Indonesia di kampus, tentu saja saya lebih mengenal kawan-kawan sejurusan yang jumlahnya hanya sekitar 20-an saja. Untuk kelas-kelas besar, saya tidak terlalu aktif. Di kelas pun biasa duduk di belakang. Beberapa hari kemarin, salah satu dosen eksentrik di jurusan kami bahkan menunjuk saya, saat menceritakan kisahnya waktu kuliah dulu, “I usually just sat in the back like that guy” yang saya sambut dengan sedikit senyum agak tertawa. Alhamdulillah sih tapi nilai essai dari sesi kuliah yang diajarkannya nilai saya mendekati distinction🙂

Selain kawan-kawan di jurusan, dengan kawan-kawan luar negeri biasa saya bermain futsal setiap minggu malam. Sisanya, saya agak kuper dalam arti jarang ikut party atau kumpul-kumpul dengan kawan-kawan luar negeri.

Beberapa hal yang kurang nyaman berkaitan dengan pergaulan ini, saya awalnya sempat merasa (subjektif saya sih) “diremehkan” beberapa kali bukan hanya oleh kawan luar negeri, tapi juga beberapa kali dari kawan Indonesia. Karena saya cenderung diam kalau di kelas, jadi dianggap saya kurang dalam bahasa, atau kurang membaca bahan kuliah. Ya saya cengangas-cengenges aja kalau digituin, emang bener mungkin. Alhamdulillah dua nilai yang sudah keluar (presentasi kelompok dan essai tadi) saya dapat memuaskan, dan termasuk yang tertinggi di jurusan, dan di kalangan kawan Indonesia.

Oh ya, dalam masa-masa awal juga, saya sudah didatangi kawan Indonesia lain yang sedang studi dari negeri jauh juga seperti Denmark dan Jerman, dalam waktu kunjungan yang berbeda. Mereka menginap beberapa hari di tempat tinggal saya. Waktu itu kami habiskan dengan mengunjung beberapa museum di Amsterdam, ke Pantai Scheveningen, Taman Miniatur Belanda Madurodam di Den Haag, dan sebagian besarnya melihat-lihat pusat Kota Den Haag.

Begitulah masa-masa awal ketibaan saya di Den Haag ini, hingga saya mulai mengikuti perkuliahan, beberapa pencapaian lain saya tulis di sini.

Dinamika hidup lainnya, seperti kontestasi menjadi Sekretaris Jenderal PPI Belanda yang seru juga saya ikuti… kisah selanjutnya silakan tunggu catatan berikutnya ya… *kalo mau baca itu juga, hehehe🙂