Memoar Perjalanan Den Haag (3) – Mencalonkan Diri Menjadi Calon Sekjen PPI Belanda

by Fadhli

Sebelum berangkat ke Belanda, saya memang sudah berjanji kepada pemberi beasiswa untuk bergabung dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia di negara tujuan. Saya sempat bercanda ke beberapa kawan sebelum berangkat jangan-jangan nanti saya jadi ketua PPI, walaupun pada akhirnya saya minta jangan diaminkan dengan serius, karena sedari awal saya berpikir sudah waktunya untuk lebih fokus pada kegiatan akademis.

Seperti yang sudah diceritakan dalam catatan sebelumnya, dalam tingkat kota saya dipilih dan sampai saat ini masih didaulat menjadi Koordinator bidang Humas dan Publikasi PPI Kota Den Haag. Namun ada kisah lain yang membuat saya pada akhirnya mengikuti ajang pemilihan Sekretaris Jenderal (Sekjen, dalam hal ini setara dengan ketua) PPI Belanda, tingkat negara.

Pada awalnya hanya ada seorang calon tunggal Sekjen PPI Belanda. Informasi mengenai pencalonan itu kami ketahui sekitar 3 pekan saat pekan kuliah, di saat kami sedang sibuk-sibuknya orientasi, dan baru saja memulai adaptasi dengan berbagai lingkungan di dalam dan luar kampus. Secara pribadi memang saya rasakan proses pencalonan itu tidak terasa gemanya. Sejujurnya walaupun saya ketahui tenggat waktu penyerahan berkas pendaftaran, namun dengan berbagai kesibukan sebagai mahasiswa baru yang masih jet lag, maka PPI Kota kami tidak sempat membahas masalah ini.

Hingga tibalah gonjang-ganjing mengenai calon tunggal ini mengemuka setelah melewati batas waktu pendaftaran. Saya belum bergabung dengan grup Facebook PPI Belanda kala itu. Dari beberapa senior yang masih berada di Belanda, kami ketahui ada diskusi hangat di grup itu mengapa organisasi sekelas PPI Belanda hanya mempunyai calon tunggal. Pembahasan “ketergesa-gesaan” dalam proses pencalonan juga mengemuka karena para Ketua dan Presidium (semacam senator) PPI Kota juga banyak yang baru dan akan beralih tampuk kepemimpinan.

Barulah setelah isu ini mengemuka, PPI Kota kami pun melakukan pengajuan usulan perpanjangan waktu. Mekanismenya diajukan sesuai dengan prosedur: mengusulkan rapat semua presidium kota untuk mengadakan perpanjangan waktu dan sosialisasi lebih gencar mengenai pendaftaran calon Sekjen yang baru. PPI Kota kami dari awal ini memang terlihat “kencang” dalam mengusulkan perpanjangan ini. Namun belum ada nama yang diajukan saat itu.

Hingga suatu malam PPI Kota kami didaulat menjadi tuan rumah sebuah acara diskusi yang digelar oleh PPI Belanda dengan menghadirkan seorang tokoh jurnalistik yang juga mengajar di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Selepas acara itu, beberapa dari kami tidak langsung bubar. Dengan beberapa senior baik yang sesama tingkat magister maupun doktoral, kami kembali berkumpul. Awalnya bincang-bincang biasa, yang berlanjut ke isu pencalonan Sekjen PPI Belanda. Perbincangan yang hingga larut malam membicarakan sejarah PPI, kontestasi pemilihan, dan posisi kami terhadap isu yang sedang berkembang.

Hingga pada satu titik diskusi kami mengarah pada satu hal: jika usulan perpanjangan waktu disetujui namun tetap tidak ada yang mendaftar bagaimana? Atau, secara kongkrit ya langsung saja sekaligus mengajukan calon, jadi semakin kuat alasan kita untuk mengajukan perpanjangan waktu karena memang sudah ada yang bersedia mengajukan diri. Lalu, hampir semua mata lalu tertuju pada saya setelah itu, “Zul, bagaimana??

Entah bagaimana kawan-kawan ini bisa berpendapat begitu karena kurang dari sebulan saja saya bertemu dengan mereka, dan belum terlalu intensif pula interaksinya. Menurut pikiran saya, mungkin karena dalam beberapa waktu itu, saya sendiri melakukan pekerjaan-pekerjaan yang cukup produktif seperti mereka tahu bahwa beberapa kali liputan saya tayang di televisi, menulis satu artikel di blog PPI Kota, kemudian dalam diskusi-diskusi (termasuk lapor diri yang dihadiri Duta Besar) saya cukup aktif. Dalam pertemuan dengan Duta Besar itu saya mengajukan pertanyaan yang cukup “berani,” “Bagaimana pendapat Ibu karena Ibu dikabarkan sudah masuk dalam bursa calon Menteri (Luar Negeri) oleh beberapa media massa di Indonesia?” Liputan saya dalam acara Pesta Rakyat Indonesia yang diselenggarakan oleh KBRI, yang di dalamnya terdapat wawancara dengan Ibu Dubes dan Kepala Daerah Wassenaar juga dirilis dalam media resmi KBRI. Entah, itu hanya anggapan saya bahwa mereka menilai saya dari hal-hal tersebut.

Kembali ke topik saat saya ditanya kesediaannya untuk diajukan menjadi calon sekjen, maka saya menolak dengan halus awalnya. Namun kemudian, saya berpikir cepat saja bahwa ini adalah kepercayaan kawan-kawan, dan secara substansi saya lihat memang ada ide-ide berbeda yang harus diusung dalam organisasi ini ke depannya selain untuk menyambung sejarah bahwa tahun sebelum kepengurusan berjalan, ketuanya juga berasal dari PPI Kota kami. Hingga akhirnya saat mereka berkata, “Ya coba saja dulu, kalah menang yang penting usaha,” yang kemudian saya balas, “Ya kalau sudah ditetapkan harus diusahakan menang” begitu jawab saya meyakinkan diri sendiri dan kawan-kawan yang mempercayai saya. Mereka pun agak lega dan mendukung penuh setelah itu.

Maka hari-hari selanjutnya menjadi hari yang sibuk bagi saya. Sebagai tambahan, perkuliahan kelas sudah dimulai dengan matakuliah yang cukup padat, kecuali hari Kamis yang kosong. Tapi di saat yang sama, saya masih punya pekerjaan part-time sebagai penerjemah ratusan halaman modul dan slide yang harus memberikan laporan kemajuan setiap dua pekan sekali. Maka pembagian waktu agak menjadi limbung bagi saya. Begadang mulai dilaksanakan kembali.

Selepas malam itu, kami bergerak cepat. Saya menyertai Ketua dan Presidium PPI Kota esok harinya untuk menghadiri rapat tentang perpanjangan waktu di Eindhoven (sekitar 2 jam dari Den Haag). Konon, rapat juga berjalan dengan sedikit alot. Saya sendiri tidak masuk ke dalam karena tidak punya hak. Perwakilan kami di dalam menjadi sorotan. Baru terpilih, tetapi langsung “mendobrak” :) Rebel! Akhirnya diputuskanlah bahwa perpanjangan waktu pendaftaran calon sekjen baru disetujui.

Sepulang dari situ, saya langsung melengkapi berkas pendaftaran. Sekaligus merancang konsep umum visi, misi, dan program kerja unggulan ke depan. Saya langsung bergabung dengan grup Facebook PPI Belanda, dan berkomunikasi dengan sekjen di dua periode sebelumnya. Dalam hal kampanye media, saya cukup “menggebrak” dengan alur kampanye yang jelas. Kampanye media ini saya berturut-turut saya lempar di hari yang berbeda: visi misi dan program kerja unggulan; testimoni orang-orang mengenai saya terdiri dari Ketua PPI Perancis beberapa tahun lalu, Ketua BEM UI, kawan mapres dahulu di kampus, dan kawan yang baru saja sama-sama menjadi mahasiswa baru di Belanda namun berbeda universitas; saya berikan hiburan dengan video yang lucu dari trailer Zorro mengingat nama depan saya juga yang menjadi simbol Zorro; ditutup untuk menarik afeksi massa dengan kisah perjuangan saya bisa sampai ke Belanda yang diambil dari kisah saya di blog ini. Kalau ukurannya jumlah like, kampanye saya cukup menarik perhatian banyak orang.

Sungguhpun demikian, saya sadar dan memang diingatkan sekjen dua periode sebelumnya, bahwa ini pada akhirnya bukanlah pemilihan langsung, melainkan perwakilan. Satu kota hanya memiliki satu suara yang diwakilkan oleh Presidium. Maka saya pun memulai strategi pendekatan ke setiap Ketua dan Presidium PPI Kota lain dengan mengirimkan email atau pesan di media sosial, meminta usulan dan ide-idenya mengenai PPI Belanda ke depannya. Tetapi patut disayangkan karena sempitnya waktu dan kendala kesibukan lain, saya tidak bisa menyambangi mereka secara langsung. Saya sudah mencoba mendatangi Rotterdam, namun pada waktu yang disepakati, perwakilan kota bersangkutan sedang sakit. Selain dengan Ketua dan Presidium PPI kota-kota lain, saya juga menjaga komunikasi dengan calon sekjen lain. Selain saya, ada satu lagi yang mendaftar, sehingga sekarang ada tiga calon.

Selain masa kampanye terbuka itu, ada dua ajang yang mempertemukan para calon sekjen ini. Yang pertama adalah diskusi online (bisa dilihat di sini) dan yang kedua adalah pertemuan langsung untuk debat (link bagian 1, bagian 2). Untuk persiapan sebelum itu, saya menyampaikan terlebih dahulu presentasi di hadapan kawan-kawan PPI Kota dan mendapat masukan dari kawan-kawan sekalian, termasuk dari senior yang sedang studi doktoral.

Saya sendiri enggan membandingkan dengan calon sekjen lain bagaimana penampilan saya saat itu. Tapi secara substansi saya pribadi cukup bisa memberikan nuansa yang berbeda, walaupun dengan gaya saya yang santai, dan bahkan dalam diskusi terakhir saya bisa membuat naik turun suasana. Awalnya sempat membuat tawa hadirin, namun di akhir saya tegaskan beberapa hal yang cukup kritis sehingga membuat suasana menjadi agak “tegang” menurut pengamatan saya.

Dalam konsep umum saya membagi tiga ruang lingkup operasionalisasi perhimpunan, sebagaimana watak historisnya: bagi PPI itu sendiri, bagi Indonesia, dan bagi dunia internasional. Walaupun terlihat seakan berat, terutama bagian terakhir, tapi dalam program kerja saya mengusulkan justru hal-hal yang sifatnya pionir dan ringan saja seperti memulai komunikasi dengan asosiasi pelajar negara lain misalnya. Peran ini diambil oleh Perhimpunan Indonesia dalam era Bung Hatta, bahkan mungkin dari beberapa era sebelumnya. Selain itu, telah diputuskan pula di tahun ini bahwa PPI Belanda menjadi Koordinator Kawasan Eropa dan Amerika untuk PPI se-Dunia, maka ada peran strategis yang seharusnya juga bisa dilaksanakan. Untuk hal ini, saya satu-satunya yang mempunyai pandangan ke luar ini dalam presentasi saat itu. Saya juga menyampaikan akan melakukan budaya diplomasi dengan tokoh-tokoh di mana tempat kita belajar saat ini. Dalam pemaparan itu, saya mau test case saja menghindari menyebut-nyebut pengalaman organisasi dan aktivitas masa lalu saya, dan lebih memaparkan substansi yang saya tawarkan.

Akhirnya pemilihan dengan sistem perwakilan pun dilaksanakan setelah sesi debat langsung, yang saat itu dilaksanakan di Aula KBRI. Para calon tidak berhak menghadiri sesi rapat. Dalam proses pemilihan ini saya ada beberapa catatan. Pertama, adalah telatnya waktu mulai yang hampir dua jam, impresi dan mood saya saat itu langsung turun, organisasi sekelas ini telatnya hingga dua jam. Yang kedua, bahwa hal-hal substansif kurang begitu terasa dalam pembahasan debat, yang terasa justru pembahasan event organizer, seperti mengambil waktu cukup banyak dalam pembahasan bagaimana mencari dana, pemisahan peran penyikapan sosial politis dari mahasiswa, yang membuat saya agak sedikit kesal dan menyampaikan, “Kita harus mulai berpikir ini adalah perhimpunan pelajar, bukan sekedar event organizer,” yang membuat para hadirin terdiam, entah mungkin menggerutu kepada saya sebagai orang yang sok idealis. Yang ketiga, saat proses penilaian calon yang dilakukan oleh presidium, saya sempat mendapatkan info bahwa salah satu elemen organisasi saya yang dicantumkan ditertawakan, walaupun mungkin itu bercanda, namun bagi saya itu adalah hal yang tidak patut dalam forum formal seperti itu.

Pemilihan dilakukan dua tahap, yang pertama adalah penilaian riwayat hidup, yang saya harus katakan hasilnya juga agak mengecewakan karena kawan saya harus dieliminasi padahal CV-nya saya yakin berkualitas pula. Maka calon sekjen tersisa dua orang, dan pemilihan dilakukan dengan voting oleh presidium, satu kota satu suara. Saat penghitungan dilakukan, kami para calon bisa menyaksikannya. Saya berkejaran suara cukup ketat di awal, walaupun pada akhirnya saya harus mengakui kekalahan tiga suara dari yang terpilih mendapatkan 9 suara kota. Saya harus meminta maaf pada akhirnya belum bisa menunaikan kepercayaan PPI Kota saya.

Bagi saya sendiri, ini bukanlah catatan kekecewaan, untuk hal yang begini (tidak terpilih) saya sudah mengalaminya sedari masa kuliah dulu. Saya sendiri setelah itu ditawari untuk memegang posisi di perhimpunan, namun dengan alasan baik-baik saya menolaknya. Selain itu, ini adalah pilihan terbaik, karena setelah merenung bahwa PPI saat ini akan menghadapi masa-masa “sulit” berkaitan transisi kepemimpinan dan beberapa gejolak nasional belakangan. Mereka yang terpilih harus siap-siap untuk mempunyai jiwa yang kokoh dan pemberani untuk bersikap.

Saat saya menulis ini, perhimpunan sendiri sedang berada dalam “gejolak.” Perhimpunan sedang dikritik karena terlalu lamanya memutuskan untuk bersikap terhadap kondisi Indonesia saat ini dalam hal kisruh lembaga negara dengan alasan yang agak mengecewakan seperti “pernyataan sikap tidak akan berdampak signifikan bagi Indonesia.” Maka PPI Kota kami memutuskan mengambil aksi sendiri dan meluncurkan pernyataan sikap yang sudah dirilis media cetak dan elektronik sudah sejak awal kasus mengemuka (rebel lah pokona mah!😀). Sementara perhimpunan tingkat negara baru saja akan mendiskusikan substansinya esok hari. Ada kawan kami juga yang lalu mengundurkan diri dari perhimpunan karena gejolak ini.

Dalam hal ini, saya kembali menuangkan pemikiran saya antara peran pelajar dan perhimpunan di sini.

Salam Pelajar!