Sendal Jepit

by Fadhli

Lagi melihat-lihat foto masa lalu di lini masa Facebook, ternyata mayoritas alas kaki yang saya pakai kalau jalan-jalan bersama kawan-kawan adalah sendal jepit. Saya lupa tepatnya mulai kapan terbiasa menggunakan sepasang alas kaki yang harganya paling mahal sepuluh ribu itu. Dari tanggal unggah di media sosial itu yang paling lama adalah tahun 2010. Tapi saya ingat sebelumnya pun saya pernah pakai, bahkan saat itu lebih ekstrim karena menggunakannya ke acara pernikahan senior, dan atasannya hanya dengan kaus yang tertutupi jaket (sekarang malu untuk mengulanginya lagi). Mungkin kalau ketahuan orang tua bisa diomeli. Pernah memakai alas kaki yang tidak sendal jepit ke undangan, semi-formal tetapi cukup terbuka kakinya masih dinasehati oleh Ibu saya agar menggantinya.

Jawaban saya kenapa bersendal jepit kalau sekedar jalan-jalan yang tidak formal dan tidak memerlukan peralatan khusus perlindungan kaki, seperti hanya ke mall atau kopi darat bersama kawan:

1. Praktis, bisa pakai dan copot sesukanya, apalagi kalau butuh sekalian berbasah kaki misalnya waktu wudhu.
2. Memberikan udara segar bagi kaki, jauh dari keringat untuk kota yang semakin panas.
3. Murah, tidak khawatir hilang.
4. Membiasakan tidak mengistimewakan tempat-tempat keramaian manusia untuk jadi ajang gengsi alas kaki, padahal yang diinjak adalah tempat yang bernuansa “dunia” terlebih saya kalau ke tempat ibadah untuk “menemui” Tuhan saja kadang masih berpenampilan seadanya.

Tapi beberapa bulan lalu saya juga pernah saltum (salah kostum) karena pakai sendal jepit. Waktu itu sedang jalan ke Praha. Asli bukan karena alasan-alasan di atas, tetapi karena sepatu sedang agak lembab dan butuh dikeringkan daripada semakin bau. Maka saya gunakan sendal jepit. Udara saat itu mulai dingin, maka saya lapisi dulu kaki dengan kaus kaki.

Saat jalan-jalan ke salah satu toko cinderamata, sang penjaga toko melihat ke arah kaki saya, sambil tersenyum ngenye’in, dia bilang, “What is that? This is cold…” Saya juga bingung jawabnya karena saya tidak melihat satupun orang yang tidak menggunakan sepatu, maka saya cuma ketawa-tawa aja mengiringi tawa si penjaga toko.

Sehabis itu benar, cuaca makin dingin, dan hujan pun turun. Kaus kaki turut basah, dan dingin semakin awet di kaki. Dari siang sampai malam saya masih berjalan dengan kondisi seperti itu. Brrrrrr…. Sampai sekarang masih ingat ekspresi ngenyein si Abang tukang cinderamata itu… Hihihi. Di musim dingin ini saya lalu tidak pernah lagi pakai sendal jika bepergian keluar dari asrama. Kapok dulu.