Are You Really Ready?

by Fadhli

Dapet quote lagi dari dosen nyentrik, “To be ready is not to be prepared.” Dia bilang begitu sebelum memulai perkuliahan. Dia mengaku jarang sekali mempersiapkan secara khusus apa yang akan dibicarakannya di kelas. Dia hanya siapkan slide Powerpoint panduan dengan beberapa poin di setiap halamannya. Dan mulailah berbicara apa yang ada di pikirannya kalau di kelas. Pernah satu slide dengan hanya 6 poin dibahas dalam waktu satu jam, dan (untungnya) relevan semua isinya.

Ungkapan ‘untuk menjadi siap adalah dengan tidak mempersiapkan’ menggambarkan ya kapan dan di manapun harusnya kita memang siap. Dia bilang memang sengaja membangun skill tersebut beberapa tahun ke belakang. Itu penting katanya, “Jadi dirimu akan ‘terpaksa’ selalu siap mempunyai bahan dan itu menggambarkan apa yang benar-benar melekat pada otak/pemikiran kamu.

Pada kesempatan sebelumnya, dia bilang ketika membahas tentang entitas manusia, “Pada era teknologi saat ini, fungsi otak kita sebagian di-outsorcing ke mesin-mesin. Kita menciptakan mesin-mesin itu untuk melakukan sebagian fungsi otak kita kan?” Semua bisa ditanya pada browsing machine.

Tapi apakah dia benar-benar tidak mempersiapkan diri? Saya rasa tidak, hanya berbeda saja bentuknya. Bayangkan, pembahasan dan kuliahnya mulai dari hal-hal filosofis, dari sejarah imperialisme ke (pasca)kolonialisme, dari teori realisme ke positivisme, post-modernism dan post-developmentalism, dari pollution ke water grabbing, dan lain-lain yang berkaitan dengan global environment politics. Semua materi-materi itu bisa melekat, dia akui bisa bicara hingga lima jam tentang satu hal, menunjukkan bahwa persiapan dan kebiasaannya membaca memang mungkin tidak khusus, tapi ya berjalan juga sehari-hari dan sebanyak-banyaknya, karena harus siap kapan dan di manapun.

Cool enough…