Dilema

by Fadhli

Keluar dari asrama dan bersiap untuk gowes. Baru saja memasukkan kunci ke lubang gembok sepeda, belum diapa-apakan ternyata rantai langsung terpisah. Waah berarti sejak semalam terakhir diparkir memang tidak terkunci dengan benar. Alhamdulillah aman dan kondisi sempurna, padahal pencurian sepeda termasuk jenis kriminalitas cukup lazim di sini. Maka gowes dimulai.

Baru beberapa kali roda berputar, dari tikungan jalan kampus tampak sosok yang tidak asing berjalan menuju arah dari mana saya bermula. Ia adalah kakak kelas SMA (yang saya baru kenal saat tiba di sini juga), terlihat rautnya agak sedih.
Zuuul…
Ti mana Teh?” (sunda: dari mana Teh?”)
Pertanyaan itu ga dijawab, tapi dia langsung bilang, “Sapeda Teteh leungit, Zuul…” (sepeda Teteh hilang, dicuri dalam hal ini)
Waaah di mana Teh?”
“Di Central (stasiun kereta), Zul…”
“Iraha?” (Kapan?)
Ieu barusan pulang ngajar, makaning pertama kali dipake deui eta teh tadi pagi… Difoto heula deui da aya salju. Aduuh tadi kakuat jongkok aya mah sababaraha menit di parkiran” (Ini barusan aja pas pulang ngajar (jadi guru sekolah Indonesia juga di sini), apalagi baru dipakai lagi itu tadi pagi (sebelumnya jarang dipakai)… dan sempat difoto dulu karena bersalju. Aduuh tadi sampai jongkok (termenung) beberapa menit di tempat semula sepedanya diparkir). Matanya berkaca dan jelas mulai meleleh.

Saya, yang tidak tahu harus berbuat apa, akhirnya pamit gowes lagi sambil berpesan sabar saja. Si Teteh pun kembali ke asrama.

Antara bersyukur sepeda saya selamat padahal tidak terkunci dengan baik, dan ikut prihatin dengan hilangnya sepeda si Teteh. Mudah-mudahan diganti dengan yang lebih baik.