Main Futsal Jangan Cengeng

by Fadhli

Setelah pekan kemarin tidak bermain futsal karena masalah mata yang bersambung ke sakit kepala, malam tadi saya main lagi. Gowes dulu ke toko buku buat ambil pesanan daring (singkatan: “dari jaringan,” Bahasa Inggris: online), mampir ke masjid sholat maghrib, dan setelah itu menuju arena olahraga ke arah pantai.

Waktu masih menunjukkan pukul 18.30, jalanan sudah lengang, gowes banyakan sambil lepas tangan, liat-liat ponsel, atur-atur irama di headset biar semangat dan ceria gowes, tepuk-tepuk paha dan tangan. Di sebelah kanan ada hutan buatan, di sebelah kiri ada jalan raya. Untung bukan Depok, (sejauh ini) ga ada begal😀 Kalo maling ada ke kamar tetangga beberapa pekan lalu.

Sampai di arena olahraga, batang-batang jari sebelah kiri yang bermain ponsel tadi sudah memerah, karena dingin sekitar 4 derajat celsius. Yang kanan aman karena terlindungi sarung tangan. Itu satu. Untung juga ga lama. Dibawa masuk ruangan dengan penghangat bentar juga normal lagi. Kejadian lucu terjadi pada teman Vietnam yang lupa bawa sarung tangan, dan ujung jarinya memerah karena kedinginan. Kemudian dia bersalaman dengan orang lain yang sudah lebih dulu tiba di arena, dan zzzzz kaget dia, karena agak nyetrum, “Ooowh maybe some electron, hhaa.

Kemudian permainan dimulai. Kebetulan salah satu benchmark saya dalam bermain futsal datang karena nampaknya sedang ada urusan di kota ini. On fire dong. Saking semangatnya, bukkkkk! Wajah saya, pas bagian kanan pula, terhantam lawan dari depan yang coba menghalau, saya terpelanting dan jatuh ke arah belakang sambil refleks pegang kelopak mata. “Are you OK?” kata lawan tabrakan saya. “I am OK, fine, fine” sambil langsung berdiri, sok cool dan tersenyum. Heuummm… pas balik ke rumah sedep juga baru kerasa. Dua.

Lanjut bermain, saat lagi seru-serunya menyerang, lawan juga menghalau lagi, bukkkk! lagi. Kali ini tulang kering kaki kanan. Heummmmfh langsung memar merah dan membesar. Si penghalau nampaknya juga ga merasa. Ga apa-apa. Lanjuuut! Tiga.

Nyerang lagi, kemudian gagal cetak gol, sambil agak menggerutu jalan mundur ke belakang, dan krrrtkkkk! Empat. Pas balik badan, rahang wajah bagian kanan nabrak bahu lawan yang juga ga sadar kalau saya jalan mundur ke arahnya. Heummmmfh… Untung gigi ga kenapa-napa dan besok udah janjian periksa gigi ke klinik.

Terakhir, kali ini lagi bertahan, mencoba mengambil bola dari kaki lawan. Bolanya berhasil disingkirkan dari kakinya, tapi bukkkkk! Lima. Kaki saya yang tertendang. Dan ga enaknya, dia yang terlihat agak kesakitan dan sempat beberapa detik keluar lapangan. Sekarang saya yang gantian nanya, “Are you OK?” sambil salaman. “I am OK” katanya. Ya udah saya langsung masuk lapangan lagi…😀

#PejuangGaBolehCengeng