Dokter Gigi

by Fadhli

Sesi kelas menonton sebuah film dokumenter belum selesai, waktunya molor cukup lama. Terpaksa saya meninggalkannya karena sudah buat janji dengan dokter gigi sejak jumat lalu.

Sampai di dokter gigi saya registrasi, kemudian dicek. Beberapa kali ‘ditembak’ pakai rontgen. Terus disuntik berkali-kali juga. Lalu entah diapakan lagi namanya yang jelas suaranya macam alat bor dan vacuum cleaner terdengar di telinga. Air dari mulut juga berloncatan, kayak sisa-sisa air mancur gitu.

Saya udah berbaring aja lah pasrah. Dalam hati, “Terus Dok, terussss lah jangan nanggung. Biarin tuh mau diapain juga…” dalam bayangan saya, 200-an Euro udah melambai-lambai akan keluar dari kartu debit😀

Selesai. Kumur-kumur sampai empat lima kali baru percikan darah ga keluar lagi.

Dokter: Ternyata untuk gigi yang baru saja ditangani kami ga bisa lakukan lebih jauh. Kamu saya rujuk ke rumah sakit ya untuk penanganan surgery.

Saya: OK (padahal antara whaaat?! dan lemes. Ya jujur aja pasti di RS biayanya lebih besar, apalagi rujukannya divisi operasi)

Dokter: Tapi sebenarnya gigi yang itu sudah tidak akan sakit karena sarafnya udah ditangani. Saya sarankan justru prioritas gigi kamu yang satu ini (beda dari yang tadi) yang ditangani segera. Kalau enggak, bisa jadi akan seperti yang sekarang juga.

Saya: (Semakin lemas) OK, tapi saya harus pastikan dulu ke asuransi saya apakah ini dijamin atau tidak. (Sebelumnya dokter bilang biaya penanganan untuk yang itu jika sampai tuntas bisa mencapai 1000 Euro).

Dokter: OK, kabari kami segera ya.

Di ruang bayar, ternyata tagihan malam ini kurang dari 120 Euro karena penanganan tidak bisa lebih lanjut. Jumlah itu belum termasuk obat yang akan ditebus besok di apotik.

Saya keluar dari klinik dan belanja bahan makanan dulu. Di bagian coklat dan yang manis-manis saya lagi ga tertarik, bahkan kesal.

Habis belanja baru ingat bahwa kartu identitas masih tertinggal di klinik. Saya sempatkan balik lagi untuk ambil itu sebelum akhirnya kembali ke asrama.

Di kamar, saya cek cakupan asuransi, tertulis “Dental expenses in case of an emergency: max. EUR 350 per year of insurance.” Makin lemes pake ga napsu makan. Tadi aja udah kepake 100 lebih, itu juga kalau asuransi menyatakan sebagai kasus emergency.

Entahlah Dok, saya pikir-pikir untuk kembali dalam waktu dekat, bahkan untuk ke RS rujukan juga. Dan langsung terpikir akan kampus di Bandung yang sebelahnya Fakultas Kedokteran Gigi.😦

Padahal tahun lalu clean sheet ga ke dokter. Why this happens here? Tapi emang penyesalan datang setelah penundaan dan pengabaian sebelum-sebelumnya sih.😦

Asli sedih. Tah ujian #PejuangGaBolehCengeng taah…

Ya Allah kumaha atuuuh… Maybe this is a lesson, better I try to shut my mouth up more often than before.