Memoar Perjalanan Den Haag (4) – Perkuliahan

by Fadhli

Setelah sibuk dengan urusan mencalonkan diri sebagai sekjen perhimpunan, saya berniat untuk fokus saja ke kuliah. Sebenarnya sudah dilobi juga berkali-kali oleh seorang dari benua tetangga yang berminat maju menjadi presiden asosiasi mahasiswa kampus (semacam BEM) sebagai wakilnya. Namun saya menolaknya. Beruntung ada perwakilan Indonesia yang maju juga sebagai paket calon lainnya. Saya hanya membantu membuatkan media kampanyenya. Wakil dari Indonesia tersebut sukses menjadi wakil presiden dari asosiasi mahasiswa terpilih.

Oh ya, momen tahunan yang juga pertama kali saya rasakan di luar negeri adalah Idul Adha. Tidak terdengar suara gemuruh takbiran malam hari. Saya mengikuti senior saja, setel takbiran dari youtube. Pagi harinya kami bersepeda sekitar 30 menitan ke Masjid Al-Hikmah, tempat mayoritas muslim dari Indonesia berkumpul di hari itu. Shalat dilaksanakan agak siang dibanding masjid komunitas lain. Kami ketahui itu karena saat bersepeda di jalanan banyak kami temui komunitas/keluarga muslim negara-negara lain yang sudah bubaran.

Baru di masjid Al-Hikmah itulah takbiran didengar. Khutbah dilaksanakan dalam Bahasa Indonesia. Namun, tidak ada penyembelihan hewan kurban. Kami hanya menyantap opor dan kue-kue yang disediakan pengurus masjid, tentu saja ala mahasiswa anak kostan. Kami bikin ribut kocak-kocakan waktu ngantri sambil memelas ke Ibu pemberi jatah, “Mevrouw… studente Mevrouw… een plaat” (Ibu, mahasiswa Bu, satu piring saja). Si Ibu ternyata membalas pakai bahasa Sunda, hihihi. Untuk melengkapi, kami juga membungkus kue-kue yang digilirkan saat makan melingkar #kelakuan. Sepulangnya, saya juga masih punya cerita menarik yaitu diterjang angin, yang diceritakan lebih detail di sini.

Di kampus, asosiasi mahasiswa juga mendapat jatah dana untuk memperingati Idul Adha dengan acara makan-makan pada hari yang berbeda. Panitianya adalah mahasiswa-mahasiswa muslim. Maka seperti biasa, tugas saya membuat publikasi. Pada hari pelaksanaan, saya juga menjadi petugas penuang makanan. Alhamdulillah, makanan Indonesia laku keras. Mulai dari soto medan, rendang, pecel, hingga es pisang ijo.

Saya sendiri, hampir kehabisan rendang. Jatah terakhir diserahkan kepada saya masih di wajan. Maka untuk menyikatnya, saya tuang langsung nasi di wajan dan memakannya langsung dari situ. #Kelakuan lagi. Hihihi supaya bumbunya ga mubazir. Teman-teman pun sebagian ikut nimbrung.

Mata kuliah yang akan mempunyai nilai hanya ada 1 di termin 1A (termin = jangka waktu; babak; tahap, KBBI). Satu termin adalah setengah semester. Mata kuliah ini merupakan matakuliah pengantar wajib yaitu Development: History, Theories and Praxes. Mata kuliah ini berlangsung satu semester, artinya baru akan selesai di termin 1B. Selebihnya adalah mata kuliah semacam pemantapan seperti bahasa, persiapan tesis, keterampilan akademis. Mata kuliah-mata kuliah yang belakangan disebut walaupun mempunyai kredit, tetapi tidak dinilai.

Mata kuliah Development itu terdiri dari dua pertemuan setiap pekan. Pertemuan pertama adalah kuliah di ruang besar. Pertemuan kedua adalah workshop dengan kelompok yang telah ditentukan dengan jumlah 14 orang rata-rata. Di kelas workshop yang membuat saya agak lebih khawatir, karena murni hanya diskusi antara mahasiswa sehingga harus mempunyai bahan bicara sebelum masuk kelas. Di kelas workshop ini, kami difasilitasi oleh seorang mahasiswa doktoral yang tugasnya sebenarnya hanya mengawasi dan mengatur kelas saja. Dalam kelas workshop setiap orang mempunyai giliran untuk menjadi pemandu kelas. Satu sesi satu pemandu. Saya mendapat jatah sesi terakhir, cerita lebih lengkapnya di sini.

Secara umum, mata kuliah ini berisi pengenalan tentang development studies. Topik dimulai dari diskursus mengenai munculnya imperialisme, kolonialisme, kapitalisme, industrialisasi, krisis finansial global, dan yang semacamnya hingga ke post-developmentalism dan sustainable development. Topik terakhir yang disebut adalah topik yang saya menjadi penyaji di kelas workshop. Tentang topik itu pulalah saya harus membuat artikel sebanyak 1500 kata di luar referensi.

Yang menarik dan sesuai dengan ekspektasi saya adalah teori dan bacaan-bacaan yang dibahas mengambil perspektif alternatif dibanding teori-teori mainstream. Jadi bisa melihat struktur dunia yang sekarang dengan perspektif yang berbeda, walaupun ga harus semuanya juga disetujui. Cuma bagi saya ini menarik untuk membangun daya kritis dan analisis yang berbeda.

Di mata kuliah ini, saya mengambil “jatah” absen seingat saya hanya sekali. Kejadian lucu pernah hampir telat dalam batas toleransi yang disepakati kelas, kemudian saya berlari hanya menggunakan sendal jepit ke kelas. Amaan, ga jadi telat.😀

Di sela-sela masa perkuliahan termin 1A, saya juga diberi kesempatan menjadi salah satu perwakilan untuk bertemu dengan Duta Besar Kerajaan Belanda yang baru ditunjuk untuk ditempatkan di Jakarta, Rob Swartbol. Beliau secara umum meminta saran dari kami sebagai mahasiswa Indonesia. Saya sempat bertanya sekaligus memberikan sedikit saran juga ketika beliau menyebut Bandung sebagai kota yang cukup menarik baginya.

Antara termin 1A dan 1B ada jeda sepekan yang saya manfaatkan untuk bergabung dengan grup perjalanan sebagian kawan-kawan Indonesia. Kami mengunjungi beberapa negara di Eropa Timur. Kota-kota yang dikunjungi secara berurutan dari Belanda adalah Brussels (Belgia), Budapest (Hungaria), Wina (Austria), Praha (Ceko), Nurnberg (Jerman, hanya transit) dan diakhiri di Heidelberg (Jerman). Semua dilakukan dengan perjalanan darat kecuali dari Belgia ke Budapest yang menggunakan pesawat.

Saat di bandara Belgia itulah saya mengalami tragedi kehilangan residence permit (semacam KTP untuk Uni Eropa) yang harus mengurus ulang dengan biaya 253 Euro. Silakan dikali Rp 15.000an waktu itu kursnya. Katepe oh katepe… Waktu hilang sempet manyun dan pusing beberapa saat. Alhamdulillah selama perjalanan tidak diperiksa, hanya paspor yang sempat diperiksa saat bis memasuki area Jerman, dan beberapa paspor kami sempat dibawa keluar sebentar dari bis oleh polisi yang memeriksa. Selebihnya perjalanan baik-baik saja, menyenangkan secara umum.

Momen yang menarik juga di antara termin 1A dan 1B adalah International Day. Ini merupakan momen tahunan yang menampilkan pameran kerajinan, kuliner dan penampilan dari setiap negara di kampus kami. Tugas saya adalah dokumentasi dan relasi media (gayane lhe lhe, bikin jabatan sendiri… hhaha). Di ruang pamer tentang Indonesia, berbagai pernak-pernik dari berbagai daerah ditampilkan.

Para mahasiswa juga menggunakan baju adat daerah masing-masing. Saya sendiri simpel-simpel aja, menggunakan iket sunda yang diberi oleh Ketua Legiun Veteran RI Kota Bandung, Aki Soedirman (91), dipadu dengan batik hitam lengan pendek yang dipilihkan seorang kawan waktu berkunjung ke Yogyakarta, tambah tempelan pin angklung di saku batik yang didapat dari kunjungan ke Saung Angklung Udjo Bandung.

Di bagian kuliner, kami menampilkan nasi tumpeng kuning dan minuman bandrek. Pengunjung tertarik melihat bentuk dekorasi tumpengnya, selain tentu saja lebih tertarik mencoba makanannya saya kira.

Bagian yang ditunggu-tunggu tiba, yaitu pertunjukkan dari berbagai negara. Saya lupa ada di urutan ke berapa kami tampil, kalau tidak salah kedua. Tanpa pengeras suara, Tari Saman dengan gerakannya yang ajaib berhasil memukau penonton, semua yang hadir sampai di coffe lounge lantai atas melongok ke bawah, tepuk tangan membahana (*dramatisasi biar heroik :D), dan ditutup dengan tari poco-poco yang diiringi dengan grup band Indonesia dadakan.

Pada hari itu Kuasa Usaha Ad-Interim Kedutaan Besar Indonesia juga hadir, karena Duta Besar baru saja ditunjuk jadi Menteri Luar Negeri dan sudah berada di Jakarta. Beliau juga kami wawancarai. Hasil dari dokumentasi saya juga ditayangkan di salah satu televisi swasta di Indonesia (link di sini). Kawan-kawan senang sekali melihatnya, sebagaimana pula saya.

Termin 1B pun dimulai. Mata kuliah yang mempunyai beban nilai bertambah satu selain Development yang masih berlangsung. Mata kuliah yang dimaksud adalah Political Economy/Ecology of Agriculture and Environment sebagai mata kuliah pengantar jurusan yang saya ambil: agraria, pangan dan lingkungan.

Isinya adalah aspek politis dan ekonomi dari isu-isu mengenai agraria (termasuk makanan) dan lingkungan yang menjadi diskursus hangat di masa kini. Kelasnya tidak kurang dinamis dan “menantang.” Warnanya juga banyak analitis kritis terhadap sistem agraria, pangan dan lingkungan yang mapan selama ini, mulai dari political economy, political ecology, sustainable development, land and water grabbing; population, gender and generation in agriculture; food regime; climate change, dan sejenisnya.

Dalam mata kuliah ini, tugasnya ada presentasi kelompok, kemudian ada pula menulis artikel 3000 kata yang kerangka masing-masing mahasiswa berhak “dikritisi” oleh semua anggota kelas lain, serta ditutup ujian akhir. Di kelas ini saya sempat tidak masuk sekitar dua kali karena yang pertama nobar final Persib versus Persipura di Liga Indonesia yang membawa Persib juara setelah penantian bertahun-tahun. Satu lagi karena lelah seingat saya. Kebiasaan sakit yang masih sering di sini, sakit mata yang nyambung ke pening kepala.

Jelang akhir termin 1B, ada prosesi wisuda angkatan atas. Prosesi wisuda yang dimaksud di sini tidaklah menggunakan toga seperti di Indonesia. Berlangsung sederhana, setiap nama dipanggil untuk mengambil sertifikat dengan beberapa acara tambahan. Salah satunya adalah menonton video yang saya juga membantu pembuatannya, terutama dalam merekam dan menyatukan gambar untuk difinalisasi oleh senior lain. Dalam wisuda ini, mahasiswa Indonesia juga “melepas” senior-senior yang berasal dari Indonesia. Beberapa dari kami juga mengantar kepulangannya hingga ke Bandara Schipol di Amsterdam.

Demikianlah awal perkuliahan secara umum yang terjadi. Di akhir termin 1B, Desember lalu, merupakan masa yang penuh perjuangan karena tugas menulis artikel menumpuk dua judul. Kemudian persiapan ujian pula dua mata kuliah. Sebagai informasi, ada 16 sesi, setiap sesi setidaknya ada 3 required readings, belum lagi kalau mau jago-jagoan baca recommended atau further readings deh tuh yang total semuanya bisa belasan. Yang agak aneh bagi saya adalah libur akhir tahun yang dua pekan, diberikan sebelum ujian. Setelah ujian pun tidak libur lagi.

Jadilah waktu libur tidak benar-benar libur. Berjuang dengan menulis artikel dengan total 4500 kata dan jurnal-jurnal baik untuk bahan artikel maupun bahan ujian. Semua mahasiswa relatif senyap. Semua lebih sering berada di kamar. Waktu dan jenis makanan, juga istirahat sudah menjadi tidak beraturan. Ditambah satu “sejarah” dalam hidup saya yang membuat beberapa hari sebelum dan sesudah 25 Desember sempat “panas dingin” dan ga banyak berbuat apa-apa dalam hal akademis. Untung masih di dalam waktu libur terjadinya.

Alhamdulillah semua telah dilalui. Nilai ujian dan artikel mata kuliah Development pun sudah keluar dengan cukup memuaskan bagi saya yang mengerjakan ujiannya sampai berkerut-kerut dan sempat terdiam mau nulis apa lagi. Hihihi. Satu mata kuliah lagi masih ditunggu pengumumannya.

Sekarang, saat menulis ini, saya tengah berada di semester 2, yang tidak dibagi menjadi dua termin. Saya mengambil dua mata kuliah wajib yang mempunyai kredit dan akan dinilai, sembari mempersiapkan proposal tesis. Mohon doanya supaya berjalan lancar.