Mengingat Guru

by Fadhli

Hari ini ramai diskusi di grup Whatsapp alumni beasiswa yang saya ikuti dulu, bahwa Jaket Kuning yang akan dikenakan juga oleh alumni-alumninya akan kembali turun ke “jalan”, tepatnya ke Kantor KPK di Jalan Rasuna Said (Kuningan), Jakarta untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi dan menolak pelemahan institusi pemberantasan korupsi. Masalah kisruhnya sudah ramai dibicarakan, tapi saya terharu ketika di grup ditampilkan foto-foto ini…

UM1Ssst… ada pasangan tertangkap kamera🙂 Dan inilah tampak depannya…

UM2 UM3

Pasangan yang nampak tidak muda lagi, mungkin sudah menginjak usia enampuluhan… namun semangatnya tidak kalah bergelora dibandingkan yang muda (secara biologis). Beliau, yang khas dengan baju putih dan celana “bahan” hitamnya adalah salah satu “guru ideologis” dan “penasihat spiritual” kami dulu di asrama beasiswa.

Beliau yang mengepalai yayasan beasiswa kami sekaligus beberapa institusi pendidikan, termasuk sekolahan anaknya Pak BW. Beliau juga menjadi staf ahli Menteri Sosial di masa kepresiden sebelum ini. Sementara di samping beliau adalah Sang Isteri yang tidak terlalu sering kami lihat dibanding Bapak, tetapi aura kekalemannya terasa, mendukung aktivitas suaminya yang luar biasa.

Jadi teringat masa-masa ketika beliau memberikan wejangan, dengan pakaian khasnya jika menyambangi asrama: koko putih, sarung, dan songkok hitam. Di lain waktu beliau pernah juga mengenakan seragam Tae Kwon Do seperti kami saat latihan, lalu sambil bercanda bilang, “Ini ban (sabuk) saya mah dapetnya honoris causa, Sabeum-nya takut kalo ga naikin tingkat saya.Hihihi. Wejangan-wejangannya termasuk yang banyak memberi warna perubahan pada pemikiran (keagamaan) saya, terutama dalam menjalani kehidupan dengan ragam dan karakter manusia.

Bahasannya relevan dengan kondisi kontemporer, menekankan pentingnya titik temu, kebersamaan dan sinergisitas sekalipun dengan kelompok yang berbeda. Beliau juga sering menekankan pentingnya pemahaman akan prioritas permasalahan zaman, agar seimbang dalam menjalani hal yang sifatnya spiritualitas personal dan profesional dalam berinteraksi dengan sesama.

Namun pembahasan yang “serius” itu selalu dibawakannya dengan logika yang ringan dan bahkan diselipkan canda menyegarkan ala Betawi, terutama jika wajah-wajah kami sudah terlihat menahan mata yang mengantuk atau rahang yang bergemeretak karena menahan untuk tidak menguap😀

Setelah selesai memberikan wejangan sekitar 2-3 jam dengan buku referensi di tangan kami masing-masing, beliau selalu menutupnya dengan bersalaman berkeliling, sambil tersenyum dan menatap wajah kami. Kadang jika dalam kesempatan lain bertemu, beliau masih mengingat dan menyebut nama saya sambil bertanya kabar. Jadi seneng kalau disebut nama oleh beliau.

Aaah, lalu saya segera minta nomor kontak beliau ke teman, karena di ponsel saya sudah hilang. Saya kirim pesan singkat untuk sekedar menyapa beliau dan Ibu, serta memohon doa kelancaran urusan. Arrrrgh taunya tidak terkirim karena pulsa habis. Beruntung ada simbol Whatsapp di nomornya itu. Saya kirim pesan melalui itu saja.

Beberapa jam menunggu hingga akhirnya ada pesan masuk, “Zulfadhli ya, berapa abad nih engga ketemu.. Semoga diberkahi Allah ya Zul dan sukses studinya…

Ah terima kasih Pak… Amiin…😀

"Jaket Kuning Perjuangan 38 tahun silam kami gunakan lagi di masa kritis..."

“Jaket Kuning Perjuangan 38 tahun silam kami gunakan lagi di masa kritis…”