Ga Kerasa

by Fadhli

Udah enam bulan aja.

Homesick banget sih enggak, asyik-asyik aja. Cuma ya kalo inget gunung dan makanan aja kadang di situ saya merasa sedih.

Mungkin nanti bakal kangen kehangatan kotanya
Orang-orangnya pertengahan, antara cuek yang berarti menghormati privasi, tapi kalau sudah berinteraksi akan dengan ramah ditanggapi, jarang ditolak kalau bertanya pada orang yang belum dikenal.

Cuacanya, yang ga bikin keringat dan ga bikin badan dan pakaian cepet ‘asyyem.’ Kadang saya rasa bagus buat balikin mekanisme tubuh alami yang sudah lama ‘terkontaminasi’ dengan cara menyelingi hari dengan tidak pakai alat-alat artifisial seperti shampoo. Sehari pakai, sehari enggak, selama masih nyaman dan ga mengganggu hajat hidup orang banyak. Tentu ini ga pernah saya lakukan kalau di Jakarta atau Depok.

Egaliternya, ga perlu sering-sering nengok kiri kanan kalau nyebrang jalan selama di zebra cross, trotoar pun besar.

Sepedanya, punya jalur khusus, mobil ngalah di hadapannya, parkir bebas dan gratis.

Jalan kakinya, mungkin jarak sama seperti biasa dulu saya jalan dari Stasiun Sudirman – Sarinah bahkan pernah yang lebih jauh, tapi rasanya lebih dekat, sehat, udaranya enak, orang lain juga banyak yang jalan

Institute-nya, walaupun beban pelajarannya lebih berat, tetapi bobotnya, keragamannya, dan cara belajarnya menarik

Internetnya, yang ga nunggu buffering untuk streaming, kalau lagi ga di kampus atau asrama juga terdapat tempat-tempat yang ada akses gratis wifi.

Dan yang lain-lainnya termasuk cerita-cerita konyolnya..

Mudah-mudahan saya ga kena sindrom membanding-bandingkan hanya untuk kepentingan merasa superior karena mendapat kesempatan ini…

Karena di setiap tempat yang dipijak ada kelebihan dan kekurangannya… dan setiap kita belum tahu di bumi mana kehidupan kita selanjutnya dijalani dan diakhiri…