Canda

by Fadhli

Kadang kayaknya hidup ini seperti kita sedang “dicandai.” Sekitar dua bulan lalu baru bermasalah dengan gembok sepeda. Kemarin kunci gembok saya patah saat coba buka gemboknya, dan parkirnya pas bukan di rumah, lumayan jauh jaraknya. Ekspresi saya (tumben) ga ngeluh malah senyum-senyum sendiri, “Bercanda ini, bercanda…

Kunci cadangan sih ada, tetapi susah juga karena kunci yang patah sudah nyelip di gemboknya. Yang bikin geli sendiri lagi karena berpikir: kalaupun saya mau ngulik entah pake palu atau pake pinset besok, ntar disangka maling sepeda. Atau, kalaupun sepedanya saya geret-geret pulang, di jalan pasti diliatin orang, disangka maling juga. Belum lagi kalau ketemu Politie yang patroli. Jadilah sepeda saya sudah menginap dua malam nun jauh dari asrama. Kadang di situ saya merasa sedih.

Untung tadi ketemu Bapak yang saya kenal. Saya ceritain deh, dia bilang mau coba bantu mengakali kalau sempat, bahkan beliau udah nawarin saya untuk pakai sepedanya dulu. Tetapi tawarannya saya tolak, khawatir bermasalah lagi, makin bercanda lagi urusannya karena punya orang lain.😀

Sama kayak saya udah hampir uring-uringan masalah asuransi untuk keperluan medis kemarin, walaupun ga sengotot zaman dulu, ya sudahlah diganti ya diganti, ga diganti juga terserah. Akhir pekan kemarin dapat balasan surel dari asuransinya dengan kalimat yang dalam konteks itu saya menganggapnya tidak berhak dapat klaim, karena bahasanya yang tidak straight forward, “suram, suram” pikir saya. Ya sudahlah. Eh, kemarin dapat balasan email lain, ternyata biaya dokternya (yang tentu saja biaya terbesar) bisa diganti walaupun biaya obat ga tercantum di situ sih. Alhamdulillah… Bercanda nih kemaren🙂

Kirim dua artikel ke koran ga dimuat, kemudian kirim ke satu platform daring juga ga ditanggapi. Akhirnya kirim ke yang terakhir alhamdulillah sudah dapat konfirmasi satu artikel akan ditayangkan nanti.

Dan akhir pekan kemarin juga dicandai teman saat main futsal. Dia jarang main sebelumnya. Beberapa kali main satu tim dengannya atau menonton dari pinggir lapangan, cukup sering saya tertawa melihat aksinya, padahal di kelas workshop dulu dia dijuluki our diplomat (beasiswanya dari World Bank bho’). Dia suka manggil-manggil saya yang kebetulan lagi full mood juga, “Zul… Zul…” “You did best…” “Good Zul… Good… I apreciate…” “Zul… Zul”… (hadeeeuh, apa lagi?! hha) “You should give me sign…” (maksudnya kasih tanda tangan, kayak pemain bola nanda-tanganin kostum fans)

Hidup sekali-kali memang harus dianggap sebagai canda, kalau urusannya hanya berkaitan dengan diri sendiri… no big deal…🙂 Mudah-mudahan bisa mengurangi kesedihan yang lagi happening, “Kadang di situ saya merasa sedih.” Iya ga Bripka Dewi Sri Mulyani? Roger. 86😀