Memoar Perjalanan Den Haag (6) – Tragedi

by Fadhli

Biar ga kayak arus utama, saya tulis memoar ini loncat dari (4) ke (6), yang kelima belum ditulis. Nanti lagi kapan-kapan.

Sebenarnya bagian ini terjadi singkat saja dalam hidup saya, hanya beberapa jam saja. Namun ini pertama kalinya dalam hidup saya, di negeri orang pula. Kisahnya antara sedih, tegang, tetapi setelah berlalu jadi lucu-lucu aja, kocak dan jadi bahan candaan. Orang lain mah ke negeri orang pulang bawa cerita buat anak cucu mungkin yang gagah-gagah, lah ini yang konyol-konyol sedep. “Hidup lo Zul… Zul…” kata kawan-kawan. Hha

Jadi kala itu Jumat malam, 16 Januari 2015 saya sedang asyik di kamar mengerjakan sesuatu di depan laptop sambil mendengarkan lagu yang distel dengan pengeras suara. Sebetulnya waktu itu sudah diajak kumpul-kumpul dengan kawan Indonesia yang akan bermain band. Berhubung saya ga bisa main alat musik dan nyanyi, saya putuskan menyendiri aja di kamar, niatnya baca gitu biar kayak orang serius.

Di asrama, saya masak dulu, waktu itu eksperimen tumis kangkung dan lumayan berhasil (keasinan dikit sih). Makan malam lah saya. Oh ya, hari itu juga siangnya untuk pertama kali saya masak kacang ijo, hari memasak yang berat banget rasanya. Lamaaa-nya minta ampun, nungguinnya bisa sampe PhD. Hha

Nah setelah makan malam dan beraktivitas di depan laptop sekitar pukul 21.15-an, tiba-tiba dari luar terdengar ketukan “Tok tok tok… Tok tok tok…” Saya yang bersarung waktu itu langsung buka pintu, dan tiba-tiba di hadapan saya ada tetangga (perempuan) yang kamarnya persis di depan kamar saya, dengan histeris dia nunjuk ke pintu kamarnya, “Look!! My door is broken… Did you hear something or did you see someone?”

Saya yang sedari tadi udah di kamar tentu saja ga tahu. Memang dari kamar biasanya terdengar suara di luar, tapi saat itu saya sedang fokus ke laptop dengan pengeras suara. Selain itu, biasanya kalau ada suara-suara di luar ya asumsinya tetangga sedang memasak atau membersihkan dapur, dan sebagainya.

Saya liat pintu kamarnya, dan bagian slot kuncinya dibongkar orang. Di meja kamarnya terdapat pisau yang diindikasi digunakan untuk membobol pintu kamarnya. Parah! Saya tanya dia siapa tahu ada barang-barangnya yang hilang, dan dia jawab spontan ga ada barang yang hilang sejauh ini.

Saya pun mengetuk pintu kamar lain yang sekoridor (satu koridor kami ada tujuh pintu). Yang keluar hanya satu orang. Praktis saat kejadian berarti hanya ada kami bertiga di koridor itu. Saya kemudian bantu menelopon security provider asrama kami. Ternyata mereka sudah tidak berurusan lagi dengan kampus kami, jadi kami diminta menghubungi polisi. Lalu saya telepon juga campus security dan ternyata dia juga “ngoper” saya ke polisi. Bukannya mereka yang hubungi, malah saya yang diminta juga kontak langsung.

Akhirnya saya telepon polisi. Sambil menunggu kedatangan mereka, saya tanya lagi apa ada sesuatu yang hilang, dan kali ini dia baru sadar laptopnya yang ditaruh di mejanya raib. Posisi mejanya memang pas di dekat pintu kamarnya. Sementara saat kejadian, dia bilang lagi tidur di bagian dalam kamar yang letaknya lebih menjorok sehingga agak sulit mengawasi meja dari tempat tidurnya. Dia nampak makin kalut dan bingung.

Dua orang polisi datang, menanyakan kejadiannya. Kemudian mengetuk kembali pintu-pintu asrama kami semua lantai untuk memastikan apakah mereka melihat malingnya. Dan karena tidak ada yang melihat, maka polisi pun tidak bisa bertindak lebih lanjut. Mereka hanya menghubungi detektif. Detektif pun datang dan segera memeriksa kamar korban. Pisaunya diidentifikasi, dan korban dimintai keterangan.

Saya juga menghubungi kampus kembali untuk bertanya bagaimana ini nasib kamar korban karena sudah jebol. Saya pun datang ke kampus masih dengan bersarung untuk mengambil kunci kamar lain di gedung asrama sebelah untuk tempat bermalam sementara bagi korban.

Korban nampaknya semacam agak terpukul dan trauma. Di sela-sela kami mendatangi kamarnya untuk mengangkut barang-barang ke kamar sementara, dia sempat terdiam lama setelah panik bilang bahwa kunci kamar yang baru saya ambilkan pun hilang. Saat itu juga tidak ada otoritas kampus yang hadir, hanya ada beberapa mahasiswa doktoral dan satu orang staf jurusan. Setelah beberapa lama, akhirnya kami mengantarkan korban ke kamar sementara sembari membawa sebagian barang-barangnya, sebagian lainnya ditaruh di koper dan dititip di kamar saya.

Cerita belum selesai. Kami semua kembali ke kamar. Saat itu tentu saja kewaspadaan saya lebih meningkat. Sensitif terhadap suara-suara di luar kamar, terlebih kejadiannya di lorong saya yang pintu lorongnya memang rusak (ini salah satu penyebab utama kenapa lorong kami menjadi target), dan kamar saya tepat di samping pintu lorong, dan kejadian yang baru terjadi pas di depan kamar saya.

Daan… Sekitar pukul 1 malam, saya mendengar suara pintu lorong terbuka, kemudian jejak kaki, dan ada suara lagi di kamar depan yang sudah tidak berpenghuni itu. Saya merapatkan kuping ke dinding untuk memastikan suaranya betul dari kamar depan. Dan dengan yakin saya ambil palu di kamar saya.

Kemudian dengan menggenggam palu, saya buka pintu kamar, kemudian saya buka pintu kamar depan tadi, tapi tidak masuk karena antisipasi kalau ada “pertempuran” mending di luar. Maka saya berlari ke luar pintu lorong dan bersiaga di dekat tangga lorong. Dan keluar langkah kaki dari kamar tadi… Saya bersiap… dan…

Ternyata itu korban yang akan mengambil barangnya yang ketinggalan. Drama berhenti? Belum saudara-saudara.

Dia justru histeris melihat saya, matanya membelalak, seakan bilang, “What are you doing Zul?! I can not believe this! You have hammer and you run fast” seakan dia bilang saya seperti yang sudah terlatih juga untuk secara tidak langsung “menuduh” saya. “I don’t know who to believe now!” katanya.

Degggg… saya bingung. Saya jelasin baik-baik, tetap saja dia masih belum nerima. Kacau. Saya akhirnya telepon lagi staf jurusan yang tadi datang namun sekarang sudah pulang untuk jelaskan kondisinya. Dia minta saya panggil teman yang lain untuk membantu menenangkannya dan mengantarkannya kembali ke kamarnya. Saya jadi ga enak ke korban. Penyelesaian masih ngegantung. Saya pun tidur saja.

Besok harinya, saya tidak nafsu makan. Bagian tumis kangkung yang sengaja saya sisakan untuk hari ini tidak termakan, begitupun beberapa potong ayam goreng. Saya hanya makan bubur kacang hijau (agak keras) juga pagi itu.

Orang-orang pun mendatangi kamar saya untuk menanyakan kejadian atau sekedar melihat kamar depan. Mulai dari tetangga lantai atas, presiden dan wakil presiden asosiasi mahasiswa, dosen, staf, ketua program studi. Dan akan ada wakil rektor juga yang akan berdiskusi. Sementara pintu-pintu lorong kami pun diperbaiki kuncinya, dengan pengawasan manajer fasilitas.

Ketua program studi bertanya pada saya, “Apa yang bisa kami lakukan untuk membuat suasana lebih baik?” karena ternyata cerita saya membawa palu sudah tersebar di komunitas mahasiswa doktoral melalui email dari dosen saya yang peduli. Tapi dalam email itu tidak dijelaskan bahwa saat ini ada situasi di mana trust terhadap tetangga menjadi abstrak bagi korban, dan saya yang paling terdampak karena kejadian semalam. Maka saya bilang ke ketua program studi bahwa saya ga masalah tetep tinggal di kamar saya, tetapi ada persoalan trust ini yang mohon dibantu penyelesaiannya.

Ketua program baru menyadari ada perkara ini, dan dia katakan lebih baik hal ini juga disampaikan saja nanti ke wakil rektor saat bertemu. Dari pagi hingga sore kami berkumpul di salah satu kamar mahasiswa doktoral untuk menunggu kedatangan wakil rektor. Kamar mahasiswa doktoral yang dimaksud sebulan sebelumnya juga pernah dimasuki orang tidak dikenal beruntung sebelum masuk sempat diusir.

Akhirnya bertemulah saya, ditemani kawan selorong asal Myanmar yang saat kejadian ada di lorong, presiden asosiasi mahasiswa, ketua program studi, dan mahasiswa doktoral tuan rumah dengan wakil rektor. Isu mengenai fasilitas asrama dan keamanan ini kami bicarakan dengan serius. Dan dibantu dengan ketua program studi, akhirnya slack saya dengan korban pun dijelaskan.

Mereka semua suportif dan percaya pada saya, walaupun saya sempat bilang kepada mereka “I am fine if I am going to be investigated by police, in fact that I am the one who contacted them first.” Saat itu korban tidak bersama kami karena nampaknya masih trauma dan tidak mau bertemu dengan banyak orang.

Wakil rektor bertanya pada saya, “Bagaimana jika kamu pindah sementara sampai kepercayaan kembali antara kalian berdua?” Saya jawab, “Kalau korban mau kembali ke kamarnya malam ini, saya yang pindah ga apa-apa, asalkan saya pindah tidak ke kamar baru karena itu juga akan mengundang pertanyaan dari kawan-kawan lain, jadi kalaupun pindah saya lebih baik menumpang sementara di kamar kawan.” Akhirnya keputusan itu kami setujui.

Saya packing ransel dengan pakaian untuk sekitar 2-3 hari. Saya pindah ke asrama yang agak jauh dari kampus, sekitar 7-10 menit berjalan kaki dan menumpang di kamar kawan. Sebagian barang-barang korban yang dititip di saya sebelumnya saya titipkan ke kawan Myanmar yang tinggal selorong. Saya pindah (sementara) sore itu juga selepas rapat. Kawan Myanmar bilang sebelum saya pergi, “Zul, I am sorry for this, but I still believe in you…” “OK then, it’s OK, maybe this is just for a while” sampai kondisi membaik.

Maka saya pun menumpang di kamar kawan dari malam Minggu hingga malam Selasa. Selasa pagi saya mendapat email dari korban menyatakan dia minta maaf atas kejadian kemarin dan dia bilang mudah-mudahan dapat tetap bertetangga dengan baik. Saya forward email itu ketua program studi untuk mengonfirmasi apakah saya sudah bisa balik ke kamar saya. Dan akhirnya saya diizinkan pulang.

Saya beraktivitas seperti biasa, korban sendiri memang agak pendiam kalau di kelas. Kami sejurusan. Tetapi setelah beberapa lama saya kembali ke kamar saya, ada kabar valid bahwa sang korban yang memutuskan pindah ke lantai yang berbeda.

Sekarang, kamar itu, yang tepat pintunya berhadap-hadapan dengan pintu kamar saya kosong. Entah, mungkin tidak ada yang mau lagi menempatinya, karena gambar dan nomor kamarnya sudah tersiar ke seantero kampus.

Sekarang saya sudah biasa saja, walaupun saat kejadian agak kesal dan bingung juga. Sekarang malah jadi bercandaan di kawan-kawan yang tahu kejadiannya. Kalau ingat itu, saya suka disindir-sindir “palu”, atau “the Hammer“, jadi inget film The Raid. Hahaha aya-aya wae lah hirup-hirup.😀