Selintas Tulis

Tulisan Sekali Duduk..

Jangan Mendahului Hasil

Kadang yang dirasa pesimis, hasilnya optimis

Kadang yang dirasa optimis, hasilnya ternyata pesimis

Kalau yang dijalani dengan pesimis secara sadar, hasilnya juga demikian

*studi kasus dari 3 matakuliah, satu matakuliah untuk satu poin di atas
**lama-lama bukan kuliah ilmu lingkungan, malah filsafat kehidupan nih… ehehe

Canda

Kadang kayaknya hidup ini seperti kita sedang “dicandai.” Sekitar dua bulan lalu baru bermasalah dengan gembok sepeda. Kemarin kunci gembok saya patah saat coba buka gemboknya, dan parkirnya pas bukan di rumah, lumayan jauh jaraknya. Ekspresi saya (tumben) ga ngeluh malah senyum-senyum sendiri, “Bercanda ini, bercanda…

Kunci cadangan sih ada, tetapi susah juga karena kunci yang patah sudah nyelip di gemboknya. Yang bikin geli sendiri lagi karena berpikir: kalaupun saya mau ngulik entah pake palu atau pake pinset besok, ntar disangka maling sepeda. Atau, kalaupun sepedanya saya geret-geret pulang, di jalan pasti diliatin orang, disangka maling juga. Belum lagi kalau ketemu Politie yang patroli. Jadilah sepeda saya sudah menginap dua malam nun jauh dari asrama. Kadang di situ saya merasa sedih.

Untung tadi ketemu Bapak yang saya kenal. Saya ceritain deh, dia bilang mau coba bantu mengakali kalau sempat, bahkan beliau udah nawarin saya untuk pakai sepedanya dulu. Tetapi tawarannya saya tolak, khawatir bermasalah lagi, makin bercanda lagi urusannya karena punya orang lain. 😀 Read the rest of this entry »

Ga Kerasa

Udah enam bulan aja.

Homesick banget sih enggak, asyik-asyik aja. Cuma ya kalo inget gunung dan makanan aja kadang di situ saya merasa sedih.

Mungkin nanti bakal kangen kehangatan kotanya
Orang-orangnya pertengahan, antara cuek yang berarti menghormati privasi, tapi kalau sudah berinteraksi akan dengan ramah ditanggapi, jarang ditolak kalau bertanya pada orang yang belum dikenal.

Cuacanya, yang ga bikin keringat dan ga bikin badan dan pakaian cepet ‘asyyem.’ Kadang saya rasa bagus buat balikin mekanisme tubuh alami yang sudah lama ‘terkontaminasi’ dengan cara menyelingi hari dengan tidak pakai alat-alat artifisial seperti shampoo. Sehari pakai, sehari enggak, selama masih nyaman dan ga mengganggu hajat hidup orang banyak. Tentu ini ga pernah saya lakukan kalau di Jakarta atau Depok.

Egaliternya, ga perlu sering-sering nengok kiri kanan kalau nyebrang jalan selama di zebra cross, trotoar pun besar.

Sepedanya, punya jalur khusus, mobil ngalah di hadapannya, parkir bebas dan gratis.

Jalan kakinya, mungkin jarak sama seperti biasa dulu saya jalan dari Stasiun Sudirman – Sarinah bahkan pernah yang lebih jauh, tapi rasanya lebih dekat, sehat, udaranya enak, orang lain juga banyak yang jalan

Institute-nya, walaupun beban pelajarannya lebih berat, tetapi bobotnya, keragamannya, dan cara belajarnya menarik

Internetnya, yang ga nunggu buffering untuk streaming, kalau lagi ga di kampus atau asrama juga terdapat tempat-tempat yang ada akses gratis wifi.

Dan yang lain-lainnya termasuk cerita-cerita konyolnya..

Mudah-mudahan saya ga kena sindrom membanding-bandingkan hanya untuk kepentingan merasa superior karena mendapat kesempatan ini…

Karena di setiap tempat yang dipijak ada kelebihan dan kekurangannya… dan setiap kita belum tahu di bumi mana kehidupan kita selanjutnya dijalani dan diakhiri…

Why Hate Monday?

 I do not like Monday, at least for the next 4 weeks! 😀

monday

Mendaki gunung dalam keadaan normal bisa lebih enak dalam hal berjalan terus ke depan, walaupun pelan-pelan. Tidak seperti menyalin verbatim (KBBI: kata demi kata) wawancara yang harus kembali ke belakang jika ada yang terlewat atau ada yang kurang jelas, balik lagi, ulang lagi… Tapi dari keduanya pasti lega kalau sudah sampai ke ujung…

New Haircut

#1
Q1: (seeing me quite strange) Haa, who are you?
A: New student, hahaha (holding my own head)
Q1: But you look better with that haircut, Latino style
A: Thank you

#2
Q2: Why your haircut looks messy, man?
A: Hahaha, you mean Lionel Messi or really messy?
Q2: Haha, I mean that does not look really tidy
A: Yah, indeed, but this is a kind of accident, hha (ceritanya begini)

#3
Q3: Eduun, gaya baru
A: Ga bisaeun ngomong Bahasa Inggris tukang cukurnya, jadi weh gini… 😀

#4
Q4: Ga pantes Juul, kayak orang baik-baik aja lo…
A: Hhaa… ga apa-apa ah, sekali-kali… 😀

Pakaian

Selama ini saya menikmati menggunakan lebih banyak pakaian informal kasual (kasual di KBBI hanya diartikan: sederhana, sementara di Oxford Dictionary salah satunya berarti informal (clothes)). Dulu sekalipun bekerja di kantoranjiyeeeh kantoran, jarang sekali menggunakan kemeja yang rapih dimasukkan dengan celana “bahan” berikat pinggang kulit dan sepatu pantopel yang mengkilat.

Seringnya kemeja lengan panjang kotak-kotak, yang bagian lengannya sering juga dilipat sampai siku, bagian bawah tidak dimasukkan ke celana, dengan celana denim yang dikencangkan pinggangnya dengan sabuk yang dibeli dari toko peralatan outdoor. Sepatunya kadang sneaker, model semi-pantopel sering juga, yang tinggal leeep, tapi haknya bukan semacam hak keras di sepatu-sepatu pantopel, apalagi kewajibannya… *naon

Kalau ada pertemuan resmi, barulah gunakan pakaian resmi semacam batik, lengan panjang juga terkadang. Kalau lebih resmi lagi ya kemeja lengan panjang yang ujungnya bawahnya dimasukkan ke celana.

Sampai sekarang, ternyata pakaian kasual justru yang sering dipakai di institusi ini. Dosen-dosen yang mengajar jarang saya temui yang menggunakan pakaian resmi berjas, atau berkemeja rapih, kecuali pada beberapa acara seperti seminar yang mengundang tokoh penting. Dosen-dosen muda walaupun di acara wisuda, tetap saja banyak yang menggunakan pakaian informal seperti atasan yang ditutup sweater dan bawahan celana denim saja.

Dulu waktu ke sini saya menggunakan jas dari Jakarta, karena diminta ayah juga sih. Ga enak juga nolak terus, padahal di rumah saya udah bilang, “Ga ada yang pake jas kali jaman sekarang mah kalau kuliah, mau disamain aja kayak jaman dulu :p” Hhee. Tapi ya sejauh ini ya memang begitulah kenyataannya. Sekali-kalinya saya pakai ya itu, dari bandara di Jakarta, transit bentar di Singapura, lalu lanjut ke Amsterdam hingga asrama di Den Haag. Lalu jas ga pernah dipakai lagi, walaupun suatu saat kayaknya ada baiknya saya gunakan lagi biar ga mubazir dibawa (kalau pulang lagi?? hha).

Entah kenapa sebabnya preferensi saya ini, yang jelas sih dulu pasti gerah, apalagi kalau pakai yang slim-pet slim-pet (slim-fit maksudnya, hha kayak orang bener aja, apalagi kalau pakai minyak rambut yang tebel, padahal kayaknya bikin hidup susah gerak), terus biar ga ribet aja, bentar-bentar liat pinggang, baju keluar ga nih? ikat pinggang bener ga nih letaknya? Hha. Ya beginilah jika #malas dan #alasan berpadu. Mudah-mudahan bisa terus menikmati berpakaian ala ini.

Mengawali malam akhir pekan yang hujan sedari siang dengan kopi kalengan (baru nemu yang enak sekalipun merknya ga begitu terkenal: Pokka), kentang goreng, hasil eksperimen bakwan jagung yang #gitudeh walaupun ga #ahsudahlah banget, dan berita penundaan tenggat waktu penyerahan tugas… Alhamdulillah…

Mengingat Guru

Hari ini ramai diskusi di grup Whatsapp alumni beasiswa yang saya ikuti dulu, bahwa Jaket Kuning yang akan dikenakan juga oleh alumni-alumninya akan kembali turun ke “jalan”, tepatnya ke Kantor KPK di Jalan Rasuna Said (Kuningan), Jakarta untuk mendukung upaya pemberantasan korupsi dan menolak pelemahan institusi pemberantasan korupsi. Masalah kisruhnya sudah ramai dibicarakan, tapi saya terharu ketika di grup ditampilkan foto-foto ini…

UM1Ssst… ada pasangan tertangkap kamera 🙂 Dan inilah tampak depannya… Read the rest of this entry »

Kecantikan Du… ni… a…

Baru nonton seri investigatif berjudul “the Cost of Beauty” tentang maraknya praktik operasi plastik di Korea Selatan. Ada satu area jalan di sana yang hampir 95% usahanya adalah klinik perekayasa “kecantikan”/”ketampanan” tersebut, dengan presentasi pelanggan yang lebih banyak adalah perempuan. Mulai dari melebarkan kelopak mata hingga mengeluarkan tulang pipi (ada gambar proses operasinya dikit, menyeramkan :(). Praktik yang sudah mengaburkan antara keperluan medis dan bisnis puluhan ribu dollar sekali operasi. Iklan-iklannya membandingkan before and after, dengan para artis sebagai penarik massa, bahkan ada makelar khusus yang mendapat insentif jika berhasil menarik orang-orang agar datang ke klinik. Dalam wawancara, salah seorang responden menyatakan bahwa seperempat anggota kelas di sekolahnya dioperasi plastik.

Entah ini fenomena identitas krisis, terbawa arus modernisasi dan globalisasi tanpa menyadari risiko dan bahayanya, saya ga mau sok jago mengomentari selain setuju total dengan pendapat Yang Yoon, Profesor Psikologi di Korea yang mengomentari hal ini, “While plastic surgery may seem like a tool for looking better… It’s actually all about comparing one’s self to others… (they) always strive to be better than their peers… (but in the end) our outer appearances don’t wholly define our lives

Semoga kita bisa terhindar dari kehidupan super-artifisial, baik artifisial secara fisik, maupun karakter.

Silakan yang mau menonton film lengkapnya sendiri di sini program 101 East ini.