Distop Polisi, Nyambung ke Emosi

by Fadhli

Minggu lalu (29/5), mobil yang saya tumpangi distop polisi. Mereka melakukan itu karena menuduh saya tidak mengenakan sabuk pengaman. Dan saya disuruh berbohong untuk mengatakan itu. Ya tentu saya tidak mau, karena saya sangat haqqul-yakin menggunakannya… Saya tetap ngotot, sampai supir yang membawa kami mengambil jalan tengah (tapi gak nyogok ya…), dan mereka membiarkan kami pergi lagi… Beuuh… Dari peristiwa itu, saya jadi teringat beberapa kenangan masa lalu: yang pertama terkait dengan distop polisi juga, yang lain berkaitan dengan emosi… karena peristiwa kemarin itu membuat saya dinasehati si sopir, jangan emosian… hhe…

Cerita SMA: Mau lari dari Polisi, eh, Jalannya Buntu
Sewaktu SMA, teman akrab saya (sekarang dia sedang kuliah di Mekkah, Universitas Ummul Qura) sering berbaik hati membonceng saya sampai ke jalan raya dekat rumahnya, dan dari jalan itu saya tinggal naik kendaraan umum sekali ke rumah. Suatu hari, pulanglah kami seperti biasa. Tiba-tiba, terlihat dari kejauhan beberapa polisi nampak sibuk di depan jalan yang kami tuju. Kami segera sadar itu adalah razia. Kalau razia orang ganteng ga masalah, karena yang ga ganteng doang yang akan ditangkep, dan saya yakin ga ditangkep :p hehe. Tapi, ini razia surat-surat. Dan, teman saya itu juga segera ingat bahwa dia tidak bawa SIM dan STNK.

Tapi tampaknya si polisi sudah melihat gelagat grogi kami. Ditunjuklah kami dari jauh, tanda diminta berhenti. Mencari selamat, pura-puralah kami tidak melihat. Untung di depan kami ada gang, dan dengan inisiatif teman saya membelokkan motornya ke gang itu. Fiuuh, selamat.

Nyatanya, itu gang buntu. Pantas dari kejauhan, si polisi tadi berjalan santai juga ke arah gang itu. Nampaknya itu memang jebakan. Dan akhirnya, kami bertemu dengan si polisi di dalam gang buntu. Motor teman saya bersama dia harus digelandang ke kantor polisi. Kasian dia, sementara saya, disuruhnya saja pulang… Ya Allah, ampuni saya… hhe…

Emosian
Saya termasuk orang yang ga bisa banyak mengekspresikan kemarahan, terlebih ke orang yang sudah kenal akrab, banter-banter saya diem kalo emosi, dan lebih sering ngalah. Tapi kalo ke orang yang gak terlalu kenal, kalau marah kadang saya bisa meluap. Seperti ke polisi yang kemaren menstop mobil yang saya tumpangi. Masalahnya, dia menyuruh saya berbohong dan mengatakan tidak memakai sabuk pengaman, padahal saya pakai. Habis sudah saya setengah teriak-teriak berbicara kepada polisi, dan tentu saja itu jadi senjata balik si polisi untuk membuat kasus menjadi ribet. Untung saja pak sopir segera mengambil inisiatif mengambil jalan tengah.

Emang kalo udah emosi itu kadang pikiran jadi ga kekontrol, jadi nafsu-nafsu gimana gitu. Kalo waktu kecil, pasti dicampur nangis sama teriak-teriak. Hhe…

Ini beberapa kasus yang saya ingat, terkait dengan emosi yang akhirnya saya luapkan:
1. Waktu masa kuliah dan masih aktif tae-kwon-do. Waktu itu berlatih tanding. Awalnya saya bermain santai saja, ga ngoyo, selain emang ga jago, takut sama lawan (hhe…) juga ya emang karena latian, selon aja kali. Eh, tiba-tiba saya tersambar tendangan (entah kepala atau dada waktu itu), dan muka lawan terlihat agak serius. Ya okelah kalo begitu, ikan bawal mandi di kali, lo jual gua beli…😀 Cari celah, pake tendangan balik sambil loncat, dicampur emosi, saya arahin ke kepalanya. Jatuh! Karena emosi, hampir saya tendang lagi dia pas udah tergeletak di tanah, untung ga jadi… Kalo seandainya jadi, bisa kena penalti, dan yang pasti bukan sikap ksatria sejati… halah…😀

2. Sewaktu SMA awal atau SMP akhir gitu ya, tepatnya saya lupa. Maen futsal. Kayaknya waktu itu posisi lagi kalah. Udah gitu saya inget, kaki saya diambil lawan. Terjatuh di tanah, saya segera meludah dan menepuk tanah tanda marah. Eh, wasit keburu ngeliat, dikasih kartu kuning pula. Padahal hampir teriak-teriak mengawali keributan itu… Hhehe…

3. Bermain bola waktu masih SD. Entah penyebabnya apa saya lupa, yang jelas saya emosi dan sambil loncat, saya tendang dada kawan saya (seakan tendangan terbang), sampai dia terjatuh dan ga sadar beberapa saat. Dan saya merasa takut saat Ibunya datang. Untung saja tidak terjadi hal yang tidak-tidak, mungkin dia hanya shock terkena tendangan saya. Ngeri banget ya, kecil-kecil sok jago.