Selintas Tulis

Tulisan Sekali Duduk..

Category: Komentar

Proud of Country

People have been asked to feel proud of this country. But, as my lecturer told us, when does government make their people proud?

We are now in the time that government speaks to much on food security and independency (swasembada), but as fundamental thing, government does not have enough attention to their farmers. None of them is appreciated and facilitated enough. I have not ever heard that they are given the status of civil servant for example. So it has been a long time ago people can not be proud – even avoid – to be a farmer in this agricultural country so-called.

And now we are in the time that many of bachelors of agriculture can not step their feet in the rice field altough they have been taught many things about agricultural theory. From practical aspect, they are maybe lack of experience compared with indigenous people like Baduy for example.

And this is not just about farmer, but also fisherman while our country has longest coastal area in the world, or salt-maker that logically out of sense that we must still to import salt from less length coastal area country. So does with volcanologist, that we have two-third volcano of wideworld and also forest ranger.

I do not know why this happens, maybe that ‘proud of country’ has been doctrinated as a ‘gengsi’ (prestigious-seeker) to have a good mark – or said as good economic growth – from other countries but ignoring many complains from its own citizens.

Advertisements

(Bukan) Resensi Police Story 2013

Saya menonton judul film tersebut di sebuah bioskop dengan harga tiket untuk hari kerja sebesar IDR 15K saja di Kota Bandung. Hebat kan hari gini masih ada bioskop isinya film baru dengan harga tiket segitu? Bakal jadi langganan tempat nonton nih kayaknya.

Filmnya diproduseri sekaligus dibintangi oleh aktor film aksi kawakan, Jackie Chan. Memang aktor ini ga ada matinya, walaupun usianya sudah beranjak senja. Sisi-sisi “kerentaannya” juga diangkat sedikit sebagai selingan dalam drama. Unsur komedi, khas film Jackie, juga dipertahankan dalam film ini.

Drama dimulai ketika Jackie Chan dikomplain oleh anak perempuannya yang menganggap Jackie terlalu sibuk sebagai polisi superhero di luar sana sehingga melupakan keluarganya. Anaknya itu kesal karena Jackie terlambat menemui istrinya sendiri di rumah sakit yang mengalami kecelakaan berujung pada kematian.

Read the rest of this entry »

Buku Motivasi untuk (tidak) Selalu Sukses

Jalan-jalan ke toko buku semakin banyak ya buku-buku yang dipamerkan tentang motivasi. Yang terbaru saya lihat ada buku inspirational quotes dengan sampul dan bentuk buku yang menyerupai mata uang Dollar Amerika Serikat. Kesan yang terlintas sesaat setelah melihatnya, “ooohh, materi lagi, materi lagi.. Hidup demi pencapaian materi. Meraih sekian dollar dan dollar dalam usia muda..

Di barisan rak yang lain ada buku yang judulnya secara eksplisit menulis “Anti-Bangkrut” dalam usaha. Kemudian saya mengamini adik saya yang juga komentar tentang buku itu, “Wah, saya juga tahu isi bukunya, itu mah gampang: ga usah buka usaha, niscaya tidak akan bangkrut.”

Di barisan rak yang lain ada buku yang sub-judulnya bertuliskan: dalam waktu sekian menit anda bisa menentukan potensi rezeki anda. Untung masih ada kata “potensi”-nya, kalau ga ada, saya bisa nyeletuk, “Bahaya tuh buku, mengambil kekuasaan Tuhan yang Menentukan Rezeki”  Read the rest of this entry »

(Pelayanan) Di Bawah Bayang-Bayang Merk Terkenal

Judulnya panjang ga jelas ya? Ga apa-apa, biar keren aja, dan orang tertarik baca. hehe. Beberapa hari ke belakang, sebagai konsumen “merk-merk” terkenal saya mengalami hal-hal yang mengecewakan dalam hal pelayanan dari penyedia jasa atau pedagang yang katanya branded itu.

Satu hari, masih dini hari saya naik taksi putih, demi mengejar waktu ke bandara. Pertama, saya bilang pengennya masuk tol terdekat. Supirnya bilang, “Masih pagi, lancar Pak, masuk tol yang depan aja.” Dan mobil sudah diarahkan, ga bisa belok dengan kilat ke pintu tol masuk terdekat, saya iyakan saja. Beruntung memang ga macet.

Masih di taksi yang sama, sekitar setengah jam berlalu si Supir tanya, “Bisa nyetir, Mas?” “Bisa,” jawab saya. “Tolong setirkan kalau begitu, saya mengantuk.” Wa elah, jujur bukan simpati saya, malah bikin curiga. Saya siap-siap aja pegang tas. Saya tolak tawarannya. Lo yang enak dong kalo gw nyopir, gw yang bayar. Enak aja.  Read the rest of this entry »

(Bukan Resensi) The Expendables 2

Karena ini bukan resensi, saya ga akan menceritakannya panjang lebar. Toh saya juga buat tahu cerita utuhnya harus bayar 40 ribu #pedit_pisan. Apalagi, saya ini nulis yang kedua kali, setelah sebelumnya udah ngetik capek-capek di hape, tapi tidak ter-upload. #curcol. Mungkin ini hanya komen-komen lepas saja terhadap filmnya.

Secara tata-aksi, film ini keren, mendekati riil. Di dalamnya ada penggabungan aksi perang bersenjata, beladiri dengan senjata tajam dan tumpul, juga perkelahian tangan kosong.

Saat melihat tampilan dan aksi tokoh-tokohnya, saya jadi teringat The Raid. Bedanya The Expendables 2 ini lebih kaya latar tempat dibanding The Raid yang hanya beraksi di satu gedung. The Expendables 2 menampilkan latar tempat di salah satu persembunyian kelompok bersenjata di Nepal dengan hutan dan sungainya, kemudian latar utama beralih ke daerah bekas pendudukan Rusia di bagian utara dunia, spesifiknya di kota tua dan daerah pertambangan di sana.  Read the rest of this entry »

Perjalanan yang “Menguliti” – Testimoni untuk Buku Meraba Indonesia

Di jurnal-jurnal sebelumnya sudah dibahas beberapa perjalanan saya di tahun 2011. Kali ini istirahat dulu ya, biar ga bosan yang baca. Saya aja yang nulisnya kadang bosan (baca: MALAS!). Kita selingi dengan tulisan yang selintas ini.

Dan beberapa hari ini sedang asyik juga tenggelam membaca buku-buku tentang perjalanan. Ada Negeri van Oranje yang belum selesai dibaca, tapi sudah dipinjam teman. Ada Ondel-Ondel Nekat Keliling Dunia, mengisahkan seorang pasukan perdamaian PBB asal Indonesia yang ditugaskan di beberapa negara rawan konflik seperti Irak dan Liberia. Agak lamaan juga udah baca Edensor tentang kisahnya Andrea Hirata yang kuliah di Perancis. Selalu ada pelajaran dan inspirasi seru yang didapat dari buku-buku perjalanan semacam itu, lebih dari motivator dengan kata-kata “dewa”nya yang menawarkan sejuta mimpi #halah!

Nah, yang paling anyar kelar dibaca dan akan dibahas kali ini adalah Meraba Indonesia: Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara. Farid Gaban dan Ahmad Yunus, adalah 2 wartawan “gila” yang dimaksud (kalau Mas Farid di salah satu cuplikan videonya bukan gila lagi, tapi “Ueeeedan!” hehe). Mereka menyusur pinggiran dan pulau terluar sekeliling Indonesia dengan kendaraan utama sepeda motor bekas. Tersedia juga video singkat liputannya jika kita membeli bukunya.

  Read the rest of this entry »

Ketika Niat (Baik) Tak Ada Tempat…

Kita mungkin masih ingat pesan Bang Napi, “Kejahatan bukan hanya timbul jika ada niat dari pelakunya, tapi juga bila ada kesempatan. Waspadalah! Waspadalah! Waspadalah

Saya mau bandingkan ini dengan kisah nyata seseorang, sebut saja Dia. Jadi si Dia ini sedang berjalan di trotoar salah satu jalan protokol di Jakarta. Sementara di pembatas jalan raya ditancapkan banyak banner meriah menyambut SEA Games 2011 dengan slogan, “Jakarta, Siap!“, di trotoar itu si Dia malah menemukan sampah botol air mineral.

Untuk tidak menyebutnya polos, si Dia dengan niat baiknya memungut botol itu dan berencana membuangnya. Dia berjalan untuk menemukan tempat yang pas untuk membuang sampah. Ternyata sampai ujung jalan besar itu tidak ada juga tempat sampah.

“Oh, mungkin di gedung seberang jalan raya ini ada,” pikirnya. Maka ia menyebrang lagi (jalan protokol itu lebar-lebar kan, jadi nambah jauh jalannya). Masuklah si Dia ke pelataran gedung di seberang jalan. Beberapa meter setelah dia menyeberang belum juga ditemukan tempat sampah, sampai ujung yang satu habis.

Oh, mungkin di sebelah gedung ini ada,” pikir si Dia lagi. Benar, di gedung sebelah itu ada, setelah berjalan cukup jauh itu.

Menyadari kepolosannya, akhirnya si Dia menggerutu sendiri, “Jangan-jangan itu botol juga udah dibawa orang entah dari mana dengan niat dibuang, tapi gara-gara capek ga nemu tempat sampah, dia buang. Begitu orang lain nemuin, mau dibuang juga, ga nemu tempat sampah juga, dibuang lagi... Gile, berbuat baik aje susah ya di Jakarta

Si Dia yang tadinya merasa sok jago dan buru-buru menyalahkan orang yang membuang sampah itu jadi berpikir, “Berarti ini bukan cuma kesalahan orang yang buang sampah, tapi juga yang harusnya memfasilitasi itu tapi mengabaikan kewajibannya memfasilitasi, dalam hal ini pemerintah dong sebagai pelayan publik, karena itu  jalan publik, atau setidaknya gedung-gedung mewah itu yang letaknya ada di sepanjang trotoar itu.

Maka si Dia juga jadi berpikir pada kasus lain, kalau orang pada menggerutu di kereta yang penuh sesak dan perjalanannya tertunda, ga cukup bilang kepada mereka, “sabar… sabar… sabar…” sementara pihak kereta api yang harusnya bertanggung jawab, ga memberikan penjelasan apapun kenapa kereta yang sudah mereka bayar tiketnya itu berhenti di tengah jalan, dan tidak pasti berapa lama lagi akan berangkat.

Atau ketika busway di jam penuh orang pulang kerja tidak kunjung datang, sementara calon penumpang tetap saja disuruh antri. Ya, mereka antri sudah, sudah begitu panjang bahkan. Yang antri tuh harusnya buswaynya… Berjejer panjang tuh bus yang banyak di halte, biar penumpang ga nunggu lama.

Pendapat saya, perubahan perilaku yang dituntut dari masyarakat oleh pemerintah, harusnya juga diiringi dengan kemauan pemerintah menyediakan lingkungan (fasilitas) yang mendukung orang tidak susah untuk berperilaku baik. Adil kan??

Mungkin Bang Napi juga harus mengingatkan bahwa seharusnya niat baik juga dikasih kesempatan seluas-luasnya… sediakanlah! sediakanlah! sediakanlah!

Trotoar Hak Siapa??

Setiap pulang dari kantor tempat magang, saya menyusuri trotoar untuk menuju stasiun kereta api. Trotoar itu berada di tepi jalan yang memang setiap jam pulang kantor hampir selalu dipadati oleh kendaraan bermotor.

Entah karena kurang sabar, atau tabiatnya emang ingin melanggar aturan, pengendara sepeda motor selalu saja banyak yang mengambil lahan pejalan kaki di trotoar. Mereka melintasi dengan seenaknya.

Maka, kalau saya berjalan, saya tetep aja berjalan di tengah trotoar itu. Pokoknya, saya ga mau berhenti berjalan atau minggir hanya karena harus mengalah pada motor. Saya sudah niatkan, kalaupun terjadi keributan, saya harus pertahankan hak saya sebagai pejalan kaki yang jalurnya memang trotoar. Titik.

Ga Penting (2)

Apa perlu liat kamus online? Atau gue perlu bukain kamus Oxford??” tanya seseorang, yang dari usia dan penampilannya masih mahasiswa, kepada temannya yang lain. Sehabis itu, yang bertanya memberitahu arti sebuah kata dengan kalimat, “Nih, gue kasih tau ya arti dari kata itu adalah bla bla bla

Ada yang salah?? Ga ada, pertanyaannya ga salah. Tapi konteksnya bagi saya yang ga penting. Itu mahasiswa sampai nanya kayak gitu hanya karena temennya yang ditanya ga tau arti sebuah kata dalam Bahasa Inggris. Jadi, ga tau satu kata aja kesannya menjadi satu kesalahan yang “dahsyat” sampe perlu buka 1 kamus.

Masih lanjut, si temennya tadi mengucapkan kata “Yaho“, padahal yang dia maksud adalah “Yahoo” (sebuah situs yang seharusnya dibaca “yahu” dalam pelafalan Bahasa Inggris). Dan, pembahasan jadi panjang dikali lebar sama dengan luas oleh pertanyaan teman-temannya: “Aduh, Yaho apaan?? “O” dua itu dibaca “U” kalo Bahasa Inggris. Kalo “Yaho” itu, “O”nya cuma “Sato.” (perhatiin, kata “Satu” dilafalkan jadi “Sato” untuk menegaskan kesalahan lafal yang cuma di ujung dan satu huruf saja itu)

Emang sih, bener kalo tu pelafalan salah, tapi dibahasnya ga usah seserius itu kali. Cuma satu kata gitu loh. Kan bisa meluruskannya hanya dengan nanya balik misalnya, “Yahoo yang internet itu?” atau “Yahoo dot com ya??” (dengan pelafalan Yahoo yang bener, atau dibaca “Yahu”, dengan niat menegaskan pelafalan yang benar). Ga mesti kayak polisi yang nginterogasi atau profesor yang lagi ngebimbing disertasi, atau ahli kata membedah pelafalannya.

Eh, ngomong-ngomong, tulisan ini penting ga ya?? 😀 Jangan-jangan ga penting juga. Udah dulu deh kalo gitu ya… Hehe…

-sehabis merhatiin dialog 4 mahasiswa di sebuah tempat makan di daerah kampus di depok-

Kecewa Menunggu

Hari ini (Rabu, 5/1/11) saya berniat mengurus surat keterangan tentang sesuatu yang tidak akan saya sebutkan (halah, banyak bener yang ga mau saya sebutkan di blog ini… hhe). Yang jelas, saya menuju salah satu ruangan di kawasan pendidikan Kota Depok. Dan, ruangan yang saya tuju kosong dari orang. Saya tanya pada Pak Satpam ke mana orang yang biasanya ada di ruangan. Maka, satpam menyebutkan salah satu tempat lain sekitar beberapa ratus meter saja dari ruangan itu karena beliau yang dimaksud ada di sana.

Melangkah saya ke tempat yang dibilang Pak Satpam. Setelah ditunjukkan oleh salah satu Bapak mana orang yang saya maksud, maka saya tidak langsung menghampirinya, karena sedang ada acara makan siang (menjelang sore sebenarnya, waktu sudah sekitar pukul 15). Saya tunggu lah beliau sampai menyelesaikan kepentingannya. Dan setelah ada kesempatan, langsung saya hampiri. Setelah memperkenalkan diri, terjadi dialog kira-kira begini,

Saya: “Mbak, ini draft surat keterangannya sudah saya buat… Memang masih ada kesalahan sih. Tapi saya sudah kasih catatan dengan pulpen. Selanjutnya bagaimana??”
Mbak: “Oh, ya sudah, tapi jangan masih ada yang salah gini. Perbaiki dulu. Habis itu kasih saya, biar nanti langsung dikopi pake kop surat instansi”
Saya: “Oh, gitu ya Mbak… Baik Mbak, saya perbaiki dulu. Tapi apa ga bisa saya serahkan softcopy-nya saja daripada pake hardcopy begitu??”
Mbak: “Oh ya boleh deh, softcopy ga apa-apa”
Saya: “Baik, kalau gitu nanti saya serahkan di ruangan Mbak aja ya… Mbak ada di ruangan sampai jam berapa??”
Mbak: “Jam 5”
Saya: “Terima kasih Mbak”

Setelah itu buru-burulah saya memperbaiki draft surat itu. Tapi sebelumnya, saya harus mencari tempat yang mendukung untuk mengetik dengan laptop saya. Pertama, saya berpikiran mengerjakannya di meja-meja bundar yang ada di sekitar situ. Ternyata baru turun hujan, dan karena tempatnya terbuka, masih basahlah meja-meja itu. Kedua, menuju salah satu lobi di area itu, yang ternyata aliran listrik di saklar “colokan” nya mati. Ketiga, menuju salah satu ruangan di mana mahasiswa biasa jajan, eh, rol “colokan” listriknya kepake. Terpaksa kembali memutar arah ke meja bundar yang basah, sambil menjaga laptop sebisa mungkin tidak kena daerah yang basah, dan menyunting surat dengan berdiri, karena kursinya juga basah.

Selepas itu, karena azan asar sudah berkumandang, saya pergi sholat ke musholla. Hitung-hitung juga nunggu Mbak tadi kembali ke ruangannya. Setelah sholat, Mbak masih belum ada di ruangan. Saya turun lagi (karena ruangan si Mbak ada di lantai 2). Bahkan hampir berniat pergi dan sudah menuju halte bis, karena sudah hampir1 jam setengah jarak saya bertemu dengan Mbak itu tadi, beliau belum nongol juga di ruangannya.

Namun dengan beberapa pertimbangan, saya balik lagi ke ruangannya untuk menunggu, kebetulan ada seorang Bapak yang kenal. Setelah beberapa lama ngobrol dengan Bapak itu, datanglah Mbak yang dimaksud.

Dipersilakannya saya duduk di ruangannya. Dan selanjutnya…

Mbak: “Buat surat keterangan ya?? Tapi sebenernya sebelum Pak Kepala yang menandatangani,  kamu harus minta paraf dulu ke satu orang terlebih dulu”
Saya: “Jadi ini gimana file-nya? Saya kasih ke Mbak sekarang atau bagaimana??”
Mbak: “Ya mending kamu minta paraf itu dulu”

Saya langsung tersenyum (kecut), tanpa banyak bicara langsung mengucapkan terima kasih dan keluar ruangan. Fiuuh. Sudah menunggu sekian lama, sekilat itu pembicaraan dan hasilnya nihil booo. OK lah untuk masalah menunggu bisa jadi saya salah karena ga nanya akan jam berapa Mbak itu tiba di ruangan. Tapi, kenapa ga dikasih tau saja prosedurnya dari awal begitu waktu ketemu di awal??? Kan lebih baik tadi saya bertemu dengan orang yang harus memberi paraf dulu, mana pake nyari-nyari tempat ngetik dulu.

Haduh, untung saya lagi ga mood marah-marah, karena selain di samping ruangannya ada Pak Kepala, saya khawatir kalo ngomel-ngomel duluan malah ga dikasih nanti surat keterangannya gara-gara sensi.

Dan ini sudah kesekian kali mengurus surat di kawasan itu, dan masih aja begitu (kecuali ke salah satu Mbak di ruangan lain, yang beliau sangat akomodatif). Haduh, world class, world class… Bikin molor target aja…

-curcol ini ditulis sambil berpikir: lebih baik besok saya minta kop surat institusi itu dulu sebelum ngeprint, daripada udah ngeprint dan diparaf, eh, disuruh ngulang gara-gara printnya ga di kop- Hosh!